Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, Jawa Timur, memaksimalkan peran 193 posyandu yang tersebar di tiga kecamatan untuk mempercepat penanganan kasus stunting dan dikolaborasikan dengan strategi dari Dinas Kesehatan.
"Peran dan komitmen Dinas Kesehatan (Dinkes), kader posyandu, tenaga kesehatan, dan petugas puskesmas yang bersama-sama menangani stunting," kata Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto di Kota Batu, Jumat.
Heli menyatakan posyandu mampu berperan terhadap penurunan prevalensi stunting di Kota Batu, yang pada 2025 tercatat berada di angka 10 persen, yang turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 24,3 persen.
Karena itu, menurut dia, peran posyandu sangat penting, sehingga Pemkot Batu terus memacu kinerja para kader guna memacu tren positif penurunan prevalensi stunting.
Selain itu,Pemkot Batu telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama seluruh pemerintah daerah se-Indonesia untuk melakukan penguatan terhadap isu stunting.
"Stunting itu tidak hanya disebabkan oleh makanan, tetapi juga dipengaruhi pola kehidupan, air, udara, dan lingkungan sekitar. Karena itu penanganannya perlu pendekatan yang lebih luas," ujar dia.
Sementara itu Sekretaris Dinkes Kota Batu Yuni Astuti mengatakan upaya penguatan yang dilakukan terhadap peran posyandu salah satunya melalui pelaksanaan Jambore Kader Posyandu. Agenda itu menjadi sarana pembinaan dan peningkatan kapasitas bagi setiap kader posyandu.
"Ini bentuk nyata dari upaya pemerintah dalam menjaga kesinambungan program kesehatan masyarakat, terutama dalam mendukung penurunan angka stunting," kata dia.
Ketua Tim Penggerak (TP) Posyandu Kota Batu Siti Faujiah menyatakan posyandu beserta para kader adalah ujung tombak pelayanan di level masyarakat yang sasarannya tak hanya bagi anak di bawah lima tahun (balita), ibu hamil, maupun lansia.
"Tetapi mulai tahun ini juga menyediakan pelayanan khusus bagi penyandang disabilitas," tuturnya.
