Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Wali Kota Batu Nurochman menyampaikan bahwa kolaborasi antara petani, akademisi, dan dunia usaha menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pertanian cerdas dan terpadu.
"Smart and integreted farming harus menjadi potret sistem pertanian di Kota Batu, untuk menciptakan itu tidak bisa lagi dengan mengandalkan kebijakan yang bersifat parsial," kata Nurochman di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu.
Jika itu bisa berjalan, maka ekosistem pertanian di Kota Batu akan bergerak ke arah yang lebih maju, dengan menyesuaikan pada aspek perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.
Maka dari itu, di era saat ini, sektor pertanian bukan hanya dilihat dari berapa banyak atau seberapa besar produksi yang dihasilkan dari sektor tersebut, tetapi juga mengacu pada kemudahan distribusi.
"Rantai pasok butuh desain yang matang agar hasil pertanian kita tidak hanya melimpah, tapi juga berkelanjutan," ucapnya.
Dengan sistem smart and integreted farming, sektor pertanian di wilayahnya akan berjalan dengan baik dan menjadi kuat.
Selain itu, Nurochman mencontohkan bentuk kolaborasi antara petani, akademisi, dan dunia usaha yang telah berhasil diwujudkan adalah lahirnya Desa Mandiri di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji.
Di desa itu telah dilakukan penguatan pada bidang pertanian yang terhubung dengan sektor pariwisata.
Kolaborasinya, dilakukan bersama PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dan Universitas Brawijaya (UB).
"Produk petani lokal juga harus semakin dimanfaatkan oleh hotel, restoran, dan kafe, agar menjadi pasar terbesar sekaligus berkelanjutan bagi petani kita," ucapnya.
Sementara itu, Vice President Treasury PT PELNI Fauziah Ferrina menjelaskan kemitraan bersama gabungan kelompok tani (gapoktan) di wilayah itu sudah berjalan sejak Januari 2025.
"Pelni menyalurkan bantuan berupa alat pertanian, pupuk, hand tractor, hingga cool storage," kata dia.
Selanjutnya, dalam waktu 12 bulan ke depan pihaknya akan memberikan dukungan pada pelaksanaan program pelatihan budidaya sayur mayur dan penerapan teknologi pertanian.
"Kemudian juga pembuatan greenhouse, hingga penguatan pascapanen. Semua ini demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia petani," tuturnya.
Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PT PELNI Anik Hidayati, menambahkan perusahaan membuka pintu bagi para petani untuk membantu memasok bahan baku pangan berkualitas untuk operasional kapal.
"Kami memiliki 25 kapal besar yang melayani 5,1 juta penumpang per tahun. Dengan dapur berstandar internasional, tentu kami membutuhkan bahan pangan berkualitas, kerja sama dengan Desa Pandanrejo ini adalah langkah strategis untuk menghadirkan nilai tambah," katanya.
Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Brawijaya Lukman Hakim, menyatakan jajaran universitas tersebut telah berkomitmen melakukan pendampingan untuk pendampingan peningkatan kompetensi para petani.
"Desa adalah isu strategis nasional, kami hadir untuk mendorong konsorsium, termasuk penyediaan pangan sehat bagi mahasiswa," katanya.
