Surabaya (ANTARA) - Sebanyak tujuh jurnalis Indonesia mendapatkan kesempatan mengikuti program "Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths" (JENESYS).
Ketujuh orang delegasi tersebut diundang oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jepang untuk belajar langsung tentang budaya dan kehidupan masyarakat di negara itu, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan dunia media dan jurnalistik.
Keberangkatan kami ke Jepang dimulai pada 1 Desember 2025, menggunakan salah satu maskapai swasta Jepang yang melayani rute Jakarta-Tokyo. Perjalanan selama kurang lebih tujuh jam nonstop tersebut mengantar kami menuju pengalaman berharga.
Setibanya di Bandara Internasional Haneda di daerah pinggiran Tokyo, para delegasi langsung diajak untuk mengunjungi kantor utama Japan International Cooperation Center (JICE), sebuah organisasi di bawah Kemlu Jepang yang menjalankan program JENESYS, di daerah Shinjuku, Ibu Kota Pemerintah Provinsi Tokyo.
Beberapa hari kemudian, kami terbang ke Kota Sapporo di Provinsi Hokkaido pada Jumat, 5 Desember 2025, untuk mengunjungi Stasiun Siaran NHK Sapporo, satu stasiun penyiaran milik Nippon Hs Kykai.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi dari Indonesia, serta delegasi negara lain, termasuk lima orang jurnalis dari Thailand dan empat jurnalis dari Malaysia, belajar mengenai sistem pertelevisian milik rakyat tersebut.
Ada satu hal menarik untuk pelajari mengenai stasiun televisi tersebut, yakni tentang bagaimana stasiun televisi milik rakyat dapat beroperasi dengan kuat di tengah hantaman era digital.
NHK sendiri didirikan sebagai perusahaan penyiaran terestrial radio pada 1924, dengan siaran radio pertama pada 1925.
NHK terus berkembang sebagai perusahaan penyiaran radio, bukan stasiun televisi, seperti yang kita kenal sekarang. Siaran televisi NHK pertama kali ditayangkan pada 1953.
Model bisnis mereka yang terus dijaga, hingga saat ini, adalah dengan mengandalkan iuran anggota dari masyarakat Jepang.
Andai seorang Warga Negara Indonesia tinggal di daerah manapun di Jepang, baik di Tokyo, Osaka, Sapporo, maupun di Okinawa, provinsi paling selatan Jepang yang beriklim tropis dan dekat dengan Filipina. Katakanlah WNI itu memiliki satu televisi atau perangkat elektronik lain yang mampu menangkap sinyal terestrial NHK, menyiarkan dan mengakses tayangan yang disiarkan NHK di tempat WNi itu tinggal.
Dengan pengandaian tersebut, maka WNI itu diwajibkan untuk membayar iuran bulanan kepada NHK sebesar Rp120 ribu per bulan, atau setara 1.100 yen Jepang.
Jika WNI itu memiliki dua televisi, maka biaya yang harus dia bayar sebesar Rp240 ribu atau sekira 2.200 yen Jepang.
Bagi seluruh individu maupun keluarga yang tinggal di Jepang dan memiliki televisi di tempat tinggalnya, tanpa memandang kewarganegaraan, seluruhnya diwajibkan membayar biaya langganan bulanan tersebut, per perangkat.
Penghimpunan dana dari pemilik televisi tersebut juga pernah dilakukan di Indonesia, melalui stasiun televisi milik pemerintah, yakni Televisi Republik Indonesia (TVRI), yang kemudian berhenti menarik iuran bulanan sejak 2000.
Iuran bulanan untuk televisi di Jepang ini diatur oleh Pemerintah Jepang melalui Artikel No. 64 mengenai Undang-Undang Siaran.
Selain itu, sejak Oktober 2025, Mahkamah Agung Jepang juga mengeluarkan mandat bahwa layanan siaran NHK melalui jaringan internet, dengan branding NHK Plus juga harus ditanggung oleh seluruh individu maupun keluarga.
Dengan demikian, maka setiap pemilik pesawat televisi, secara hukum wajib membayar iuran langganan yang tadinya sebesar Rp120 ribu, menjadi Rp213 ribu per bulan atau setara 1.950 yen Jepang. Nilai itu sesuai dengan kepemilikan satu pesawat televisi atau perangkat lain yang mampu menerima sinyal terestrial NHK, tanpa kompromi.
Hal tersebut membuat posisi NHK secara keuangan sangat kuat, meskipun NHK bukan merupakan stasiun televisi milik pemerintah.
Maka dari itu, NHK, dalam laporan yang diterbitkan di situs web milik stasiun itu menyatakan bahwa jumlah pemasukan dari iuran warga tersebut mencakup 96 persen dari total penghasilan perusahaan.
Penghasilan tersebut mampu memastikan independensi perusahaan dalam memproduksi berita dan tayangan lain, kemudian menayangkannya, tanpa keterikatan dengan pihak manapun, terutama pemerintah. Stasiun televisi itu tetap mengawal dan menjaga siarannya untuk kepentingan masyarakat Jepang.
Kekuatan perusahaan tersebut dibuktikan melalui tayangan-tayangan NHK, baik berita maupun tayangan hiburan dan edukasi lain yang memiliki standar sangat tinggi, terverifikasi, dan aktual. Fakta itu menjadikannya sebagai salah satu pakem dalam dunia penyiaran, bahkan di kancah global.
Dari kunjungan ke stasiun NHK Sapporo tersebut, juga tergambar jelas sarana dan prasarana terbaik yang dimiliki perusahaan demi menunjang fungsi utama dalam menyediakan tayangan bermanfaat bagi rakyat.
Kamera-kamera canggih dan terkini, ruang siaran, ruang redaksi dan editing, maupun studio rekam yang dipenuhi fasilitas penunjang mutakhir, hingga kafetaria yang nyaman bagi para pekerja maupun pengunjung. Para pekerja NHK yang ramah dan berdedikasi tinggi, semuanya menunjukkan seluruh komposisi perusahaan terorkestrasi dengan indah, demi mencapai tujuan bersama.
Selain itu, pemirsa tidak akan pernah melihat satu pun tayangan iklan komersial selama menonton saluran NHK. Seluruh tayangan dibalut dengan informasi-informasi yang tepat, akurat, tajam, dan menarik, tanpa terganggu jeda iklan yang menjadi nadi bagi banyak perusahaan-perusahaan televisi lain di dunia.
Hal serupa dipertegas oleh Full Time Manager of Media Center NHK Sapporo, Hiroyuki Hamada. Hiroyuki menegaskan bahwa sampai kapanpun tayangan televisi NHK tidak akan menampilkan iklan komersial demi komitmen perusahaan memberikan layanan pemberitaan dan tayangan, tanpa gangguan bagi pemirsanya.
Orang tua angkat kami dalam program kunjungan tersebut, Robert Ashcroft, seorang dosen di Universitas Tokai Sapporo asal Inggris, yang telah tinggal di Jepang selama 20 tahun, juga menyatakan hal yang senada dengan Hiroyuki.
Menurut dia, tayangan NHK memang memiliki kualitas yang sangat baik di segala lini. Ia pun menegaskan bahwa tayangan NHK tidak pernah diwarnai oleh iklan komersial, dan kontennya banyak menjadi rujukan masyarakat dalam mengakses tayangan tentang berita terkini.
Meskipun Robert dan istrinya, Hanae Ashcroft, menyatakan bahwa keluarganya jarang sekali menonton tayangan televisi, baik yang disiarkan NHK maupun stasiun lain akibat masifnya penggunaan layanan tayangan berbasis internet dan langganan, seperti Netflix dan Hulu, mereka pun tak keberatan membayar iuran NHK, lantaran hal tersebut merupakan bentuk penghargaan darinya bagi perusahaan dan masyarakat Jepang itu sendiri.
"Sudah menjadi kewajiban untuk membayar siaran NHK. Jadi kami membayar. Tapi kami membayar bukan karena diwajibkan, kami membayar sebagai bentuk penghormatan kepada NHK dan rakyat Jepang itu sendiri," katanya, di suatu malam di kediamannya di Distrik Minami, Sapporo.
Hal tersebut menggambarkan komitmen dan loyalitas masyarakat Jepang dalam membiayai suatu lembaga penyiaran publik demi kepentingan masyarakat itu sendiri sejak 101 tahun yang lalu.
Beroperasi dengan profesionalitas terjaga dan didukung oleh loyalitas warga, NHK tidak akan pernah mati. NHK tidak akan pernah kalah dari gempuran tayangan dan pemberitaan media global, yang menggunakan internet dan media sosial sebagai senjata utamanya.
NHK akan berdiri dengan teguh dan gagah, melayani rakyat Jepang dalam menyajikan tayangan-tayangan televisi berkualitas.
Sangat sulit membayangkan siaran NHK menghilang, setidaknya dalam waktu hingga beberapa dekade ke depan.
