Situbondo (ANTARA) - Membaca kembali lembar demi lembar novel "Para Priyayi" karya Umar Kayam, perhatian saya justru tertuju pada sebuah sudut geografi yang seringkali luput dari perbincangan utama: wilayah Besuki dan Panarukan, keduanya berada di Kabupaten Situbondo.
Jika Wanagalih digambarkan sebagai pusat kepatuhan kaum birokrat kepada pemerintah kolonial Belanda, Besuki hadir sebagai antitesisnya. Melalui kacamata sosiologi sastra, kita melihat kawasan ini bukan sekadar ruang geografis, melainkan sebuah artefak sejarah tentang bagaimana kecerdasan dan perlawanan dikelola pada masa itu.
Pada era Hindia Belanda, otoritas penjajah memiliki kebijakan implisit untuk merelokasi atau mengasingkan kaum elit pribumi yang dianggap terlalu cerdas, vokal, dan bernapas nasionalis. Mereka, yang diwakili oleh tokoh Martoadmojo dalam novel "Para Priyayi", dipinggirkan dari pusat kekuasaan ke wilayah timur Jawa ini. Niat awalnya jelas: mematikan karir politik dan membungkam pengaruh kultural mereka.
Hanya saja, sejarah membuktikan bahwa rezim kolonial, saat itu justru melakukan blunder strategi. Alih-alih memadamkan semangat perlawanan, kebijakan pengasingan tersebut malah mengubah Besuki menjadi "kawah candradimuka" yang mengumpulkan para pemikir terbaik negeri ini.
Lahirnya intelektual organik
Ketika para cendekiawan yang terusir ini tiba di Besuki, terjadi sintesis budaya yang menarik. Terpisah dari kemewahan fasilitas dan struktur feodal keraton, mereka terpaksa menanggalkan perilaku elitis. Para priyayi kritis ini, akhirnya melebur dengan masyarakat lokal pesisir dan kaum santri yang wataknya keras, egaliter, serta apa adanya.
Dalam proses peleburan inilah lahir sosok yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai "intelektual organik". Mereka bukan lagi kaum terpelajar yang hidup nyaman di menara gading birokrasi, melainkan pemikir yang turun ke lumpur, bergesekan langsung dengan realitas sosial, dan menjadi penyambung lidah rakyat setempat.
Kecerdasan kognitif yang mereka miliki, kini dipadukan dengan daya juang (resiliensi) khas masyarakat Tapal Kuda.
Warisan DNA
Narasi historis inilah yang menjadi fondasi sosiokultural atau bisa kita sebut sebagai "DNA" bagi masyarakat Besuki dan sekitarnya, hari ini. Karakter kritis, kemandirian berpikir, dan keberanian melawan arus yang diwariskan oleh para "priyayi buangan" tersebut telah mengendap dalam memori kolektif masyarakatnya.
Dalam konteks pendidikan kontemporer, warisan tak kasat mata ini menjadi modal tak kasat mata yang sangat berharga. Menguatnya pencapaian mutu pendidikan di kawasan ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Ruang-ruang kelas di wilayah Besuki, sesungguhnya berdiri di atas tapak tilas sejarah yang merayakan keberanian berpikir merdeka.
Anak-anak yang hari ini menempuh pendidikan di daerah itu mewarisi gen sosial tersebut. Mereka tidak hanya dididik untuk sekadar menghafal buku teks atau mengejar kepatuhan demi status sosial (seperti yang dilakukan Sastrodarsono di masa lalu), melainkan didorong untuk menjadi pemecah masalah yang kritis.
Pada akhirnya, merefleksikan kembali karya Umar Kayam dalam novel itu membawa kita pada sebuah kesimpulan baru yang melegakan. Besuki bukanlah keranjang sampah sejarah kolonial. Ia adalah rahim subur yang secara tidak sengaja dipupuk oleh Belanda untuk melahirkan generasi intelektual organik, satu kekuatan tersembunyi yang menjadi jangkar bagi kemajuan pendidikan kita di masa kini dan masa depan.
*) Dr Redy Eko Prastyo adalah pemerhati sosial budaya, akademikus dari Universitas Brawijaya (UB) Malang
