Surabaya (ANTARA) - X (Twitter) terpilih mengigat setelah melihat monitoring mentions media digital dalam satu bulan terakhir menempatkan X(Twitter) sebagai kanal tertinggi 89,9 persen disusul Instagram 3,4 persen kemudian TikTok 2 persen YouTube 1,3 persen Facebook 0,7 persen dan sisanya tersebar pada media digital lain pada kata kunci “war krs”.
Dominasi ini membuat X relevan untuk membaca fenomena yang bergerak cepat karena publik memusatkan komentar, keluhan, humor dan transaksi pada satu ruang yang sama. ASIGTA Twitter mengurai 476 unggahan netizen X tentang War KRS yang ditarik dengan kata kunci “krs war” atau “war krs”.
Data ini diambil pada tanggal 3 Februari 2026 pukul 09.11 WIB dan mencakup rentang awal 18 Januari 2026. Data memuat 388 unggahan yang menyebut “war” dan “KRS” secara eksplisit pada teks. Data memuat 154 balasan serta 322 unggahan bukan balasan sehingga mayoritas unggahan berperan sebagai pembuka percakapan.
Data menunjukkan puncak percakapan yang sangst terkonsentrasi pada 2 Februari 2026 dengan 250 unggahan atau sekitar setengah dari total data. Pola jam juga menunjukkan sifat sinkron yang kuat karena unggahan mencapai puncak pada pukul 10.00 WIB dengan 47 unggahan lalu muncul lonjakan lain pada pukul 00.00 WIB dengan 43 unggahan dan pukul 23.00 WIB dengan 40 unggahan.
Pola ini menjelaskan mengapa mahasiswa menyebutnya “war” karena mahasiswa mengejar kuota pada jendela waktu yang sempit lalu mahasiswa bereaksi serentak ketika sistem dibuka. Dibaca melalui Software ASIGTA Twitter pada empat lapisan yaitu jaringan aktor, jaringan tematik, jaringan emoji, dan jaringan hashtag.
Ditemukan 370 akun unik pada data sehingga percakapan menyebar luas, tetapi ASIGTA juga menampilkan pola inti dan pinggiran karena sebagian besar akun muncul satu kali dan sebagian kecil simpul menjadi titik rujuk interaksi melalui balasan dan sebutan akun. Struktur ini membuat satu unggahan pemantik dapat menarik banyak respons dalam waktu singkat ketika jam War KRS tiba.

Peran akun menfess muncul kuat pada data karena mahasiswa memakai ruang agregasi untuk bertanya, meminta saran, dan menulis keluhan tanpa beban identitas personal. Data memuat penanda format menfess seperti kata “sender” pada 14 unggahan. Data juga memuat sapaan komunitas yang berfungsi sebagai pemanggil audiens misalnya “upnvjt!” yang muncul pada beberapa unggahan tanya jawab.
Data memuat sebutan akun menfess yang terlihat melalui mention terutama akun bertipe fess atau mfs seperti @yubifess yang muncul paling sering pada daftar mention, @undipmfs2, @unairmfs, @unsoedmfs, @itbfess_x, @ugm_fess, dan @ub_menfess. Pola ini menunjukkan mahasiswa memakai menfess tidak hanya sebagai tempat curhat tetapi juga sebagai mesin distribusi informasi cepat ketika War KRS berlangsung.

Jaringan tematik ASIGTA menempatkan “war” dan “krs” sebagai simpul terbesar (sesuai dengan pengambilan kata kunci), lalu kata berbasis waktu mengelilingi dua simpul itu. Data memuat kata “jam” pada 31 unggahan dan kata “besok” pada 20 unggahan sehingga mahasiswa membangun koordinasi berbasis jadwal bukan berbasis urutan antrean.
Data juga memuat rujukan pada sistem akademik dalam bentuk istilah yang berulang seperti “simaster” pada 5 unggahan, “siam” pada 3 unggahan, dan “siamik” pada 1 unggahan. Data memuat keluhan teknis yang konsisten seperti “error” pada 5 unggahan, “down” pada 4 unggahan, “server” pada 4 unggahan, dan “lemot” pada 1 unggahan.
Mahasiswa menempatkan kondisi sistem sebagai variabel penentu sehingga pengalaman War KRS tidak hanya dipahami sebagai strategi pribadi tetapi juga dipahami sebagai pertarungan melawan ketidakpastian layanan.
Mahasiswa menulis War KRS sebagai pengalaman emosi dan tubuh yang terasa nyata. Data memuat ungkapan “deg” dalam variasi “deg²” atau “deg deg” pada 7 unggahan dan data memuat kata “takut” pada 7 unggahan. Data memuat kata “panik” pada 2 unggahan dan memuat variasi “stress” atau “stressing” pada 3 unggahan. Data memuat kata “tidur” pada 15 unggahan dan memuat “begadang” pada 3 unggahan serta “subuh” pada 2 unggahan.
Mahasiswa juga menautkan War KRS pada kualitas hidup sehari-hari melalui preferensi jadwal. Data memuat kata “jadwal” pada 11 unggahan dan kata “pagi” pada 16 unggahan, sedangkan kata “malam” muncul 6 kali dan “malem” muncul 7 kali. Data memuat kata “enak” pada 2 unggahan dan kata “capek” pada 2 unggahan. Angka ini belum cukup untuk menyimpulkan semua motif preferensi, tetapi angka ini cukup untuk menunjukkan arah diskursus bahwa mahasiswa mengejar susunan kelas yang terasa lebih layak dan lebih manusiawi, bukan sekadar mengejar terpenuhinya SKS.
Diskursus War KRS juga menyentuh figur akademik dan prosedur persetujuan. Data memuat kata “dosen” pada 6 unggahan, memuat “DPA” pada 8 unggahan, dan memuat frasa “dosen PA” pada 2 unggahan. Data juga memuat kosakata generasi dan fase studi seperti “semester” pada 17 unggahan, “maba” pada 8 unggahan, dan “kating” pada 4 unggahan, lalu data memuat variasi “dipaket” pada 11 unggahan dan memuat “paket” pada 2 unggahan.
Pola ini menunjukkan mahasiswa menegosiasikan dua fase, fase paket yang terasa lebih pasti dan fase war yang terasa lebih kompetitif lalu mahasiswa menukar pengetahuan praktis antargenerasi melalui percakapan cepat.
Mahasiswa menulis strategi sebagai upaya bertahan. Data memuat rujukan perangkat seperti “laptop” pada 4 unggahan dan “hp” pada 3 unggahan, lalu data memuat rujukan taktik seperti “mode desktop” pada 1 unggahan dan “warnet” pada 1 unggahan serta “mouse” pada 1 unggahan dan “fast hand” pada 1 unggahan.
Mahasiswa menampilkan orientasi solusi yang konkret, tetapi mahasiswa tetap menempatkan hasil akhir pada faktor yang tidak sepenuhnya bisa mereka kendalikan, terutama ketika keluhan error dan down muncul berulang pada jam yang sama.
Jaringan hashtag ASIGTA memperlihatkan jalur yang tegas dari pembicaraan War KRS menuju pembicaraan jasa. Data menempatkan #zonauang sebagai tagar paling dominan dengan 26 kemunculan pada metadata hashtag. Data juga menampilkan #zonajajan sebanyak 5 kali, #krsugm sebanyak 5 kali, #jasakrs sebanyak 4 kali, #testibatusikrs sebanyak 4 kali, #warkrsugm sebanyak 2 kali, #testibatusi sebanyak 2 kali, dan #jokikrs sebanyak 2 kali.
Koeksistensi tagar juga membentuk struktur pasar karena pasangan #zonajajan dan #zonauang muncul bersama 5 kali, pasangan #jasakrs dan #krsugm muncul bersama 4 kali, dan pasangan #jokikrs dan #zonauang muncul bersama 2 kali. Pola ini menunjukkan pengguna mengaitkan War KRS dengan ruang transaksi dan ruang testimoni, lalu tagar berfungsi sebagai mesin temu untuk penjual dan pembeli.
Kemunculan joki terlihat jelas pada data dan data menunjukkan komodifikasi solusi. Data memuat kata “joki” pada 30 unggahan. Data memuat kata transaksi yang mengiringi “joki”, yaitu “open” pada 10 unggahan, “jasa” pada 11 unggahan, “DM” pada 4 unggahan, “WA” pada 13 unggahan, “bayar” pada 10 unggahan, dan “testi” atau “testimoni” pada 8 unggahan. Data menjelaskan satu mekanisme yang penting, kelangkaan kuota dan ketidakpastian sistem menciptakan tekanan waktu, tekanan waktu menciptakan kecemasan, kecemasan membuka ruang bagi layanan yang menjual kecepatan tidak hanya tetapi juga menjual rasa aman psikologis.
Dua Lapis Ketimpangan
War KRS bukan sekedar istilah gaul mahasiswa, ini adalah indikator masalah tata kelola akses. Data menunjukkan mahasiswa menghadapi kelangkaan kuota dan jendela waktu yang sempit lalu mahasiswa memaknai proses administratif sebagai kompetisi sinkron yang memicu ketegangan kolektif. Mahasiswa menunggu jam tertentu, mahasiswa menyiapkan lebih dari satu perangkat, mahasiswa menulis keluhan teknis saat sistem tidak stabil, lalu mahasiswa menumpahkan emosi melalui klaster emoji sedih dan frustrasi yang dominan.
Pola ini memberi pesan yang tegas, KRS di ruang digital berubah menjadi peristiwa sosial yang mengganggu ritme tidur, mengikis rasa adil, dan mendorong sikap pasrah setelah strategi habis dipakai. Data juga memperlihatkan mekanisme yang lebih serius, ruang publik tidak hanya menjadi tempat curhat tetapi juga menjadi pasar solusi. Percakapan menfess mempercepat penyebaran pengalaman dan strategi, tetapi pada saat yang sama jalur hashtag memperlihatkan pergeseran dari “war” menuju “transaksi”. Koeksistensi istilah joki dengan tagar transaksi membuktikan terbentuknya ekonomi informal yang menempel pada kecemasan mahasiswa.
Kondisi ini menciptakan dua lapis ketimpangan, mahasiswa yang lebih cepat dan lebih paham menang lebih dulu, mahasiswa yang mampu membayar memperoleh peluang tambahan, sedangkan mahasiswa lain menanggung risiko jadwal yang tidak ideal dan beban studi yang tidak sesuai harapan. Perang yang terlihat ringan di permukaan ternyata menghasilkan konsekuensi nyata pada kualitas hidup dan kualitas belajar. Implikasi bagi kampus dan perguruan tinggi harus dibaca sebagai peringatan keras.
Data menunjukkan publik menilai mutu layanan akademik melalui pengalaman KRS, bukan melalui slogan transformasi digital. Kampus yang membiarkan kompetisi akses terus berulang memberi sinyal bahwa layanan inti pendidikan masih berjalan dengan logika rebutan, bukan logika pelayanan. Kondisi ini membuka ruang normalisasi praktik berisiko, terutama ketika pihak ketiga menawarkan jasa melalui komunikasi privat dan transaksi, lalu mahasiswa tergoda karena mereka lelah, cemas, dan takut gagal mengunci mata kuliah.
Kampus perlu memandang War KRS sebagai masalah pengalaman pengguna dan keamanan, bukan sebagai keluhan musiman, karena setiap puncak War KRS berarti puncak risiko, puncak frustrasi, dan puncak ketidakpercayaan. Data menunjukkan transformasi digital pendidikan tidak bisa diukur dari keberadaan sistem, tetapi harus diukur dari keandalan akses dan keadilan alokasi. War KRS memperlihatkan layanan yang menciptakan kelangkaan semu melalui desain waktu dan desain kuota, lalu kelangkaan itu memproduksi pasar informal.
Pemerintah perlu menempatkan isu ini sebagai bagian dari standar layanan digital pendidikan tinggi, karena ketika layanan inti memaksa mahasiswa “berperang”, sistem mendorong perilaku adaptif yang berisiko dan memunculkan ekonomi jasa yang sulit diawasi. War KRS bukan sekadar cerita mahasiswa, War KRS menjadi sinyal bahwa desain layanan yang kompetitif mengubah hak akses akademik menjadi arena pertarungan sosial yang tidak adil.
____________________
*) Penulis adalah Kepala Laboratorium Integrated Digital FISIBPOL UPN Veteran Jawa Timur
