Kediri (Antara Jatim) - Pemerintah Kabupaten Kediri menyiapkan vaksin H5N1 clade 2.3.1 yang diberikan kepada para peternak unggas guna mengantisipasi penyebaran flu burung, terutama pada itik. "Kami sudah persiapkan stok vaksin yang kami anggarkan dari APBD II dengan jumlah sampai 60 ribu dosis," kata Kepala Seksi Pencegahan Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri Istar Abadi di Kediri, Rabu. Ia mengatakan, stok itu sudah dibagikan kepada peternak di 12 kecamatan di Kabupaten Kediri. Saat ini, sejumlah mantri hewan sudah mengambil vaksin itu untuk memvaksin ternak warga, terutama itik. Sampai saat ini masih terdapat laporan itik warga yang diduga mati terkena flu burung. Jumlahnya lebih dari 200 ekor yang tersebar di antaranya di Kecamatan Wates pada Februari lalu, serta di Kecamatan Papar. Kasus itu terjadi mulai Januari-April 2013 lalu. Selain itik, juga terdapat unggas lain seperti burung puyuh dan ayam kampung dengan jumlah kematian sampai lebih dari 2.000 ekor. Kematian itu juga terjadi dalam rentang Januari-April 2013. Jumlah kematian yang terjadi itu tidak lebih banyak daripada temuan tahun sebelumnya, 2012. Sesuai data yang ada di dinas dan sudah dilaporkan ke provinsi, jumlah kematian itik mencapai 19.011 ekor dari populasi 88.048 ekor ternak yang ada di tempat tersebut. Itik itu tersebar di 14 kecamatan. "Kematian yang resmi dilaporkan pada 2012 itu mulai Oktober-Desember 2012 ada 19.011 ekor yang tersebar di 14 kecamatan, sementara ada 69.037 ekor yang terancam terinveksi. Ternak ini belum terinveksi tapi rawan, jika tidak segera diobati," kata Istar. Populasi unggas di Kabupaten Kediri ini cukup besar. Jenis itik mencapai 209.700 ekor. Jumlah ini tidak lebih besar daripada unggas jenis lain seperti ayam petelur dan ayam potong yang mencapai hampir 10 juta ekor. Namun, jika dibiarkan populasi itik habis karena serangan penyakit, bukan tidak mungkin akan bisa menyebar pada unggas lain yang sehat. Ciri penyakit itu terutama yang menimpa itik, di antaranya tubuhnya sempoyongan, kelopak matanya berwarna putih yang mengakibatkan rabun, hingga mengakibatkan kematian. Biasanya umur ternak sekitar tiga bulan atau itik yang masih muda. Kematian berlangsung dalam jumlah besar dan serentak. "Masa inkubasi antara 1-7 hari atau sekitar satu pekan. Ini yang kami waspadai, biasanya mencegah kerugian ternak yang terlihat sakit justru dijual. Untuk itu, kami awasi untuk penyebarannnya," katanya. (*)
Berita Terkait
Pemkab Kediri alokasikan Rp2,4 miliar untuk "reward" atlet
24 Desember 2025 08:44
Pemkab Kediri gelar doa malam tahun baru sebagai bentuk empati bencana
24 Desember 2025 06:02
Pemkab Kediri minta siaga bencana saat libur Nataru
23 Desember 2025 23:15
Pemkab Kediri distribusikan komputer jinjing untuk pelajar
20 Desember 2025 10:17
Pemkab Kediri anggarkan Rp60 miliar lanjutkan pembangunan stadion
8 Desember 2025 22:35
Pemkab Kediri ingatkan ASN kerja dengan hati
5 Desember 2025 16:37
Pemkab Kediri serahkan 5.800 sertifikat PTSL
4 Desember 2025 12:03
