Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Dinas Perhubungan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memberdayakan puluhan juru parkir untuk menjadi petugas jaga di sembilan pos jalur perlintasan langsung (JPL) kereta api di daerah itu.
"Iya, kami memanfaatkan petugas juru parkir yang bersedia beralih menjadi petugas JPL," kata Kabid Lalu Lintas Dishub Tulungagung, Panji Putranto di Tulungagung, Senin.
Dijelaskan, saat ini total ada sembilan pos JPL yang dibangun Dinas Perhubungan (Dishub) Tulungagung pada 2024. Namun tiga di antaranya belum beroperasi karena kekurangan petugas jaga.
Sembilan pos JPL tersebut tersebar di sejumlah lokasi, yakni satu JPL di Ngujang, satu di Ketanon, dua di Plosokandang, satu di Desa Bendiljati, satu di Gendingan, satu di Pulosari, dan dua di Buntaran.
"Dari sembilan JPL yang terbangun, tiga belum beroperasi, yaitu di Desa Buntaran dan Desa Pulosari. Masalahnya bukan pada infrastruktur, melainkan karena belum tersedia petugas jaga," ujar Panji.
Setiap pos JPL memerlukan minimal empat petugas yang bertugas secara bergantian dalam tiga shift per hari.
Dengan kebutuhan 36 petugas untuk sembilan JPL, saat ini Dishub hanya memiliki 27 petugas.
"Sebelum 2024, kami sempat merekrut tenaga honorer untuk JPL di Desa Ketanon, tetapi sekarang itu tidak lagi memungkinkan," tambahnya.
Dishub juga mempertimbangkan domisili calon petugas jaga agar dekat dengan lokasi JPL yang akan ditempati.
Hingga JPL yang belum beroperasi bisa difungsikan, Dishub Tulungagung telah memasang papan peringatan bagi masyarakat untuk berhati-hati saat melintas.
"Tahun ini kami tidak berencana menambah pembangunan JPL. Fokus kami adalah memenuhi kebutuhan SDM untuk pos yang sudah ada," kata dia.