SDLB Bojonegoro Butuh Printer Braile untuk Cetak Pelajaran

id dinas pendidikan, hanafi, siswa SDLB, pemkab bojonegoro, bantuan siswa, antaranews jatim

SDLB Bojonegoro Butuh Printer Braile untuk Cetak Pelajaran

Guru tuna netra SDLB Negeri Kalirejo di Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, Nurul Harida Aini (kanan) yang juga tuna netra mendengarkan siswa setempat yang membaca Al Qur'an huruf braile, Rabu (21/3). (Slamet Agus Sudarmojo.)

Saya bisa mengetik di komputer biasa, tapi kesulitan untuk menyampaikan kepada siswa tuna netra karena tidak bisa dicetak di kertas menjadi huruf braile.
Bojonegoro (Antaranews Jatim) - SDLB Negeri Kalirejo di Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, membutuhkan "printer" braile untuk mencetak mata pelajaran yang diketik di komputer huruf biasa menjadi huruf braile untuk kegiatan proses belajar mengajar bagi siswa.

Kepala SDLB Kalirejo, di Desa Kalirejo, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro Sutras, di Bojonegoro, Rabu, menjelaskan keberadaan printer braile sangat penting karena bermanfaat untuk memperbanyak mata pelajaran untuk dipelajari para siswa tuna netra di SDN setempat.

Namun, menurut dia didampingi guru tuna netra Nurul Harida Aini, SDLB Negeri setempat tidak berani mengajukan usulan pengadaan printer braile ke dinas pendidikan (disdik) karena harganya cukup mahal mencapai Rp600 juta.

Harga printer itu diketahui dari lembaga pendidikan berkebutuhan khusus di Jawa Timur, yang pernah memperoleh bantuan printer braile produksi Norwegia.

"Di Jawa Timur saja hanya ada empat lembaga pendidikan luar biasa yang memperoleh bantuan printer braile. Ya kami tidak berani mengajukan usulan pengadaan printer braile, sebab harganya mahal," ujarnya.

Nurul yang juga tuna netra itu, memberikan gambaran bahwa kebutuhan printer braile sangat membantu mencetak mata pelajaran yang diketik di komputer biasa.

Dengan program tertentu, lanjut dia, puisi yang sudah diketik di komputer dengan huruf biasa setelah di printer braile akan tercetak menjadi huruf braile.

"Saya bisa mengetik di komputer biasa, tapi kesulitan untuk menyampaikan kepada siswa tuna netra karena tidak bisa dicetak di kertas menjadi huruf braile," ucap Nurul yang juga tuna netra itu.

Lebih lanjut Sutras menjelaskan SDLB Negeri Kalirejo, mengusulkan kepada dinas pendidikan (disdik) agar statusnya ditingkatkan menjadi SLB agar bisa menampung siswa berkebutuhan khusus tidak hanya tingkat dasar, tetapi juga tingkat lanjutan.

Sebab, di Kecamatan Ngraho, Tambakrejo, Margomulyo dan Ngambon, masih banyak orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan luar biasa dengan berbagai alasan.

"Rata-rata sekitar lima sampai enam siswa jumlah siswa baru per tahunnya. Saat ini SDLB Negeri Kalirejo memiliki 34 siswa, terdiri dari tuna netra, tuna runggu, tuna graita dan tuna daksa," ucapnya menjelaskan.

Untuk menarik orang tua di wilayah setempat, kata dia, di SDLB Negeri Kalirejo, sekarang memiliki grup kesenian dengan pemain para siswa yang diberi nama Campursari Siswa Gayeng Laras Budaya. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar