Surabaya (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur dan Timor Leste menjalin kerja sama di berbagai bidang mulai dari perdagangan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga investasi di sektor daur ulang.
Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri Tommy Kayhatu mengatakan perkembangan hubungan dagang antara Jawa Timur dan Timor Leste sepanjang periode 2021 hingga 2025 sudah menunjukkan kinerja yang positif.
“Jatim itu menjadi mitra dagang strategis bagi Timur Leste, karena secara geografis sangat dekat. Bahan produk kita yang selama ini telah diekspor kesana," katanya di Surabaya, Sabtu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja perdagangan kedua wilayah semakin menguat pada 2023 dengan nilai ekspor Jatim ke Timor Leste naik menjadi 243,18 juta dolar AS hingga terjadi surplus neraca perdagangan 237,68 juta dolar AS.
Tren positif ini berlanjut pada 2024 menghasilkan surplus tertinggi selama periode pengamatan sebesar 254,84 juta dolar AS sedangkan pada 2025 hingga Oktober terjadi surplus 238,29 juta dolar AS.
Asisten Atase Industri dan Perdagangan Timor Leste Ricardo de Araujo mengatakan Timor Leste sebagai negara yang relatif baru merdeka masih berada dalam tahap pembangunan.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap pengembangan industri kecil dan menengah menjadi sangat besar dan Jawa Timur dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung kebutuhan itu.
Bahkan, lanjut Ricardo, penguatan UMKM menjadi salah satu fokus utama kerja sama karena saat ini jumlah UMKM di Timor Leste masih terbatas lantaran pembangunan yang dilakukan secara bertahap.
Hal itu yang mendorong Timor Leste memerlukan pendampingan dengan jenis UMKM yang dibutuhkan antara lain industri kecil seperti kerajinan tenun, makanan ringan, serta produksi perabot rumah tangga sederhana.
Selain UMKM, peluang investasi besar juga terbuka khususnya di sektor pengelolaan sampah dan daur ulang karena Timor Leste belum memiliki sistem pemilahan dan daur ulang sampah.
Ricardo menginginkan perusahaan-perusahaan dari Indonesia khususnya Jawa Timur dapat berinvestasi di sektor tersebut.
“Untuk daur ulang itu belum ada. Sampah masih dikumpulkan di satu tempat saja,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kebutuhan mendesak terhadap suku cadang dan layanan perawatan alat berat karena banyak pengusaha Timor Leste membeli alat berat dari Indonesia namun terkendala layanan purna jual.
“Setelah alat berat operasi satu sampai dua tahun, sering bermasalah karena tidak ada suku cadang di sana,” kata Ricardo.
Beberapa produk utama yang dikirim dari Indonesia ke Timor Leste meliputi bahan bangunan, makanan, obat-obatan, kosmetik, serta alat berat.
Dengan jumlah penduduk Timor Leste yang kini mencapai sekitar 1,5 juta jiwa, Ricardo pun berharap pertemuan dengan Kadin Jatim dapat membuka kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan.
“Harapan kami, ke depan kerja sama dengan Kadin Jawa Timur bisa berjalan lebih baik dan saling menguntungkan,” katanya.
