Malang Raya (ANTARA) - Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) mempertahankan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) selama lima tahun berturut-turut.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof Dr Widodo kepada wartawan di Malang, Jawa Timur, Jumat, mengemukakan implementasi Zona Integritas (ZI) dalam aktivitas akademik di lingkungan kampus merupakan wujud nyata dukungan terhadap visi pembangunan nasional.
"Zona Integritas melampaui angka-angka di atas kertas. Ini adalah langkah berkelanjutan untuk merawat kepercayaan masyarakat. Kami memastikan tata kelola anggaran di UB bertransformasi menjadi pelayanan publik yang berkualitas dan berorientasi hasil," ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan FTAB mempertahankan predikat tertinggi ini selama lima tahun berturut-turut membuktikan bahwa perubahan budaya kerja di UB merupakan komitmen permanen, bukan sekadar tren sesaat.
"Standarisasi WBBM adalah predikat tertinggi. Ini berarti FTAB tidak hanya bersih dari korupsi, tetapi juga melayani dengan standar prima," ujarnya.
Prof Widodo mengemukakan bahwa capaian ini adalah hasil kerja keras seluruh sivitas akademika.
Untuk mencapai status ini tidaklah mudah, tantangan terbesar dalam reformasi birokrasi adalah mengubah kultur kerja yang sudah berjalan selama ini. “Ini bukan hal yang mudah, karena harus mengubah kultur kerja yang selama ini sudah dijalankan,” katanya.
Menyinggung implikasi raihan WBBM tersebut terhadap kemungkinan penambahan kota calon mahasiswa baru dan kenaikan uang kuliah tunggal (UKT), Prof Widodo secara tegas mengatakan bahwa kuota calon mahasiswa maupun UKT merupakan kewenangan Kemendiktisaintek.
"Kami tidak bisa menambah atau mengurangi kuota calon mahasiswa baru, termasuk UKT. Kami mencari pendanaan dari bidang usaha UB maupun dari dana abadi, termasuk untuk memberikan beasiswa dan operasional lainnya," ujarnya.
Sementara itu, Dekan FTAB UB, Prof Yusuf Hendrawan mengemukakan bahwa FTAB UB menjadi yang pertama dan satu-satunya kampus yang mewakili Kemendiksaintek.
Sebagai WBBM, ia berkomitmen untuk terus memberikan inovasi yang berdampak bagi masyarakat maupun mitra. Kinerja unit juga harus meningkat dan tidak boleh turun.
Selain itu, FTAB terus memastikan bahwa dampak inovasi yang dilahirkan fakultas itu harus diduplikasi oleh unit lain.
Ia mengatakan FTAB ingin menciptakan birokrasi yang bersih dan dapat melayani dengan baik, sehingga bisa menjadi contoh bagi institusi lainnya.
Hendrawan menyebut ada beberapa capaian FTAB dalam mendukung WBBM, di antaranya mendigitalisasi sistem yang digunakan, meskipun tidak semua. Selain itu, juga sudah beradaptasi dengan AI, dibuktikan dengan mahasiswanya yang sudah memiliki sertifikasi khusus AI.
FTAB, lanjutnya, juga memiliki centre of excellent (CoE) hingga corporate library. Saat ini, FTAB UB juga memrogramkan setiap dosen dapat menulis 2-3 jurnal terindeks Scopus setiap tahun. Para dosen juga didorong untuk mengajar di luar negeri melalui program teaching fellowship.
Prof Hendrawan mengatakan WBBM bukanlah titik akhir, melainkan standar baru dalam pelayanan. Pihaknya berkomitmen untuk menularkan semangat "Bersih Melayani" ke fakultas lain di lingkungan Universitas Brawijaya.
"Jika WBK adalah bukti bahwa kami jujur, WBBM adalah bukti bahwa kami bekerja nyata untuk memudahkan urusan masyarakat," ujarnya.
