Lamongan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercepat normalisasi kanal sungai sepanjang sembilan kilometer di kawasan Bengawan Jero, sebagai bagian dari upaya penanganan banjir di wilayah Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan percepatan normalisasi dilakukan untuk mengendalikan luapan air seiring meningkatnya curah hujan pada puncak musim hujan, khususnya pada Januari.
“Di wilayah ini terdapat banyak anak sungai dan Bengawan Jero bermuara ke Kabupaten Gresik. Karena itu diperlukan normalisasi kanal sepanjang sembilan kilometer agar aliran air dapat langsung menuju laut,” katanya usai meninjau lokasi banjir di Desa Laladan, Kecamatan Deket, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu.
Ia menjelaskan langkah tersebut memerlukan koordinasi lintas kabupaten, terutama dengan Pemerintah Kabupaten Gresik, karena jalur aliran air melintasi kawasan sekitar Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang berpotensi terdampak limpasan.
“Oleh sebab itu, saat ini pintu air Kuro di Kecamatan Glagah masih ditutup. Dari enam pintu air dengan kapasitas total 840 liter per detik, tidak semuanya dapat dioperasikan agar distribusi aliran air tetap terkendali,” katanya.
Menurut Khofifah, pengaturan pintu air akan disesuaikan dengan kondisi cuaca. Jika intensitas hujan rendah, suplai air ke sungai-sungai dapat dibuka sehingga genangan di kawasan Bengawan Jero lebih cepat surut.
Ia menambahkan mitigasi banjir telah dilakukan secara menyeluruh, namun masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat tren kenaikan curah hujan.
Berdasarkan data BMKG Juanda, intensitas hujan pada Januari 2026 mencapai 58 persen atau hampir tiga kali lipat dibandingkan Desember 2025 yang berada di kisaran 20 persen.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Lamongan M. Naim mengatakan banjir terparah terjadi di Kecamatan Deket, Kalitengah, Turi, Karangbinangun, dan Glagah.
BPBD Lamongan terus mengoperasikan empat pompa utama di Bendungan Kuro serta pintu air Tambakombo secara bergantian sesuai kondisi lapangan.
“Sekitar seribu lebih rumah warga terdampak, dengan sawah dan tambak tergenang mencapai sekitar 12 ribu hektare. Perkiraan kerugian sementara sekitar Rp4 miliar,” ujarnya.
