Madura Raya (ANTARA) - Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sumenep, Jawa Timur, membina para narapidana keterampilan membatik sebagai upaya pemberdayaan dan membangun potensi ekonomi bagi mereka apabila mereka bebas dan kembali ke masyarakat.
Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Pelayanan Rutan Kelas IIB Sumenep, Teguh, di Sumenep, Kamis, mengatakan, selain sebagai bentuk pembinaan, program pembekalan keterampilan bagi narapidana ini juga sebagai upaya jangka panjang, mengingat berdasarkan hasil temuan, sebagian besar di antara mereka yang terlibat dalam kasus kriminal karena faktor ekonomi.
"Atas dasar itu, maka kami memfasilitasi agar para narapidana ini memiliki bekal keterampilan yang bisa menghasilkan atau menjadi sumber ekonomi mereka apabila nantinya mereka bebas atau kembali ke masyarakat," katanya.
Ia menjelaskan salah satu program keterampilan yang diajarkan kepada para narapidana itu adalah membatik.
Program pembinaan kemandirian ini, sambung dia, sudah mampu mencetak sebanyak 15 orang narapidana di Rutan Kelas IIB Sumenep mampu membatik secara profesional dengan hasil yang memuaskan.
"Hasil kerajinan mereka sudah bisa kami pasarkan bahkan para narapidana perajin batik itu sudah mendapatkan premi atau upah hasil kerja mereka," katanya.
Teguh menuturkan pada Rabu (31/12/2025), pihaknya memberikan premi secara langsung kepada warga binaan yang tergabung dalam pembinaan kemandirian membatik.
Premi tersebut berasal dari hasil penjualan Batik Catra Rutan Sumenep, yang selama ini telah dikenal luas dan diminati masyarakat.
Rutan Sumenep juga memberikan apresiasi kepada warga binaan yang telah bebas namun sebelumnya turut berkontribusi dalam pengembangan Batik Catra, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan karya yang telah diberikan.
"Kami ingin memastikan bahwa warga binaan tetap memiliki harapan dan motivasi. Melalui pembinaan membatik ini, mereka tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga merasakan hasil nyata dari kerja mereka. Ini adalah bekal penting agar kelak mereka dapat mandiri dan diterima kembali di tengah masyarakat," kata Pembina Kemandirian Batik Rutan Sumenep, Hadari.
Program pembinaan kemandirian Batik Catra Rutan Sumenep diharapkan terus berkembang sebagai sarana pemberdayaan warga binaan, sekaligus menjadi bukti bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan, tetapi juga ruang untuk tumbuh, berkarya, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Menurut Hadari, nama Batik Catra digunakan sebagai bentuk simbol batik tulis khas yang dihasilkan oleh warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sumenep, sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.
Jenis batik ini menawarkan motif lokal yang kaya dengan sentuhan modern, melambangkan semangat perubahan, dan menjadi produk unggulan yang bernilai seni serta ekonomi tinggi. Dibuat dengan teknik batik tulis manual oleh tangan-tangan terampil warga binaan, batik ini sering dijadikan cenderamata khas Sumenep dan mendapat apresiasi nasional.
Produk batik hasil kerajinan warga binaan pemasyarakatan di Rutan Kelas IIB Sumenep ini bahkan pernah digunakan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di ajang Indonesian Prison Product and Arts Festival (IPPA Fest) 2025 yang diselenggarakan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 21 April 2025.
Selain membatik, jenis keterampilan lain yang juga diajarkan kepada narapidana keterampilan membuat gelang manik dan benang, bekerja sama dengan Organisasi Srikandi Keris Sumenep.
