Madura Raya (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur mencanangkan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) sebagai upaya untuk menekan kasus stunting di wilayah itu.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Kabupaten Sumenep Ellya Fardasah di Sumenep, Selasa mengatakan, Program Genting ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari program gerakan nasional yang dilakukan pemerintah pusat.

Karena itu, sambung dia, Pemkab Sumenep langsung menindaklanjuti surat edaran tersebut untuk segera dilaksanakan di tingkat kabupaten.

Fardasah menuturkan, bentuk tindak lanjut yang dilakukan Pemkab Sumenep tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Sumenep, Nomor: 2 Tahun 2026 tertanggal 23 Januari 2026 tentang Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting.

Intinya, sambung dia, program sebagaimana dalam surat edaran tersebut merupakan gerakan bantuan bagi keluarga berisiko tengkes, sehingga melalui kepedulian para pihak termasuk orang tua asuh menjadi bagian dari upaya pencegahan dan percepatan penurunan tengkes.

"Melalui program ini diharapkan, agar balita berisiko stunting mendapatkan bantuan untuk peningkatan gizi dan kesehatan, serta keluarga yang memiliki balita berisiko stunting, mendapatkan edukasi dan bantuan lain untuk pemberdayaan keluarga," katanya.

Ellya Fardasah lebih lanjut menjelaskan, kasus stunting di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sumenep masih termasuk isu kesehatan krusial dan kompleks, sehingga membutuhkan upaya pencegahan dan penanganan percepatan penurunan yang dilaksanakan secara holistik integratif dan berkualitas, melalui koordinasi sinergi dan sinkronisasi dari peran seluruh pihak.

Sehubungan dengan hal tersebut, diharapkan pula semua pihak dan pemangku kepentingan, agar mau berperan serta untuk menjadi Orang Tua Asuh (OTA) kepada sasaran berisiko stunting, dengan beberapa cara.

Pertama, memberikan donasi atau bantuan berupa nutrisi, yakni pemberian makanan lengkap siap santap atau kudapan kaya protein hewani, selama 1000 HPH hari pertama kehidupan senilai N1 sebesar 15.000 per hari per anak minimal 3 bulan.

Sedangkan N2 sebesar 15.000 per hari per anak minimal 6 bulan dan N3 pemberian 2 butir telur setiap hari selama minimal 6 bulan perkiraan sebesar 100.000 per bulan dan bantuan susu formula kotak @150 gram per bulan kali 3 bulan 18 kotak.

Selanjutnya bantuan non-nutrisi, yakni perbaikan rumah agar layak huni, perbaikan jamban, penyediaan air bersih dan edukasi bantuan pendukung, seperti akses air bersih dapat berupa pengolahan air bersih, pipanisasi, pengeboran sumur atau teknologi guna mengubah air tidak layak konsumsi dan edukasi pencegahan untuk remaja dan calon pengantin, serta edukasi penanganan ibu hamil, pengasuhan dan peningkatan kapasitas ekonomi.

Lebih lanjut dijelaskan, bantuan kedua berupa uang dapat disalurkan melalui Baznas, bantuan berupa telur atau susu disalurkan ke Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep atau langsung oleh orang tua asuh setelah mendaftar dan terdata oleh tim pengendali Genting, dengan rincian pengelolaan bantuan nutrisi 80 persen bahan makanan dan 20 persen untuk pengelolaan dan distribusi.

“Dan ketiga fasilitas bantuan di desa dapat melalui kampung keluarga berkualitas kampung KB Dahsyat dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) setempat,” katanya.

Sementara di Kabupaten Sumenep, jumlah anak yang terdata mengalami stunting terdata sebanyak 750 orang tersebar di 27 kecamatan dataran dan kepulauan.



Pewarta: Abd Aziz
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026