Surabaya (ANTARA) - Organisasi nirlaba diaspora Indonesia Lighthouse memperkenalkan prototipe aplikasi angklung berbasis web yang dikembangkan bersama mitra teknologi saat perayaan World Angklung Day 2025 di Mills Theater Millbrae, California, Amerika Serikat.
Co-founder Indonesia Lighthouse Ari Sufiati menjelaskan aplikasi Angklung Indonesia dikembangkan oleh Utara by GITS.id.
"Malam itu, sebuah inovasi kecerdasan buatan memungkinkan ratusan penonton memainkan angklung secara imersif melalui gawai mereka," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Rabu.
Aplikasi ini menciptakan pengalaman interaktif.
Ari menyaksikan seluruh auditorium Mills Theater bergema dengan alunan angklung yang dimainkan bersama-sama oleh pemain tradisional di atas panggung dan para penonton, baik dengan angklung bambu maupun melalui perangkat digital mereka.
"Hari ini kita menyaksikan bagaimana teknologi tidak menggantikan tradisi, tetapi memperpanjang umurnya," ujar profesional di bidang teknologi dan pegiat filantropi ini.
Lima belas tahun lalu, UNESCO mengakui angklung sebagai warisan dunia. Kini, melalui inovasi digital, jutaan orang di seluruh dunia dapat mengalami keindahan angklung tanpa batas geografis.
Bagi Ari, langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem angklung digital yang menjembatani warisan budaya dengan inovasi teknologi.
"Agar generasi baru di Indonesia maupun diaspora dapat terhubung dengan angklung melalui medium yang akrab bagi mereka," ucapnya.
Selain di California, Indonesia Lighthouse juga menggelar perayaan World Angklund Day 2025 di Chicago, Amerika Serikat, pada 15 - 16 November lalu.
Ari mengungkapkan, kegiatan ini menjadi langkah penting dalam membangun jembatan budaya Indonesia dan Amerika Serikat melalui program berkelanjutan berupa konser, lokakarya, program edukasi dan inisiatif digital.
