Situbondo (ANTARA) - Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, naik menjadi 71,87 dari tahun sebelumnya 71,22 poin, karena adanya perbaikan pada dimensi kesehatan dan pendidikan serta ekonomi, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Situbondo Ribut Hadi Candra.
"Jadi, faktor utama yang mempengaruhi IPM adalah dimensi kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Ketika IPM ini meningkat, maka ada perbaikan pada tiga dimensi tersebut," kata Candra, sapaan Kepala BPS Situbondo Ribut Hadi Candra di Situbondo, Jumat.
Untuk dimensi kesehatan, kata dia, diukur dari angka harapan hidup. Sedangkan dimensi pendidikan, lanjutnya, diukur dari harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Sementara dimensi ekonomi diukur dari pengeluaran per kapita di daerah setempat.
Menurut Candra, usia harapan hidup di Situbondo meningkat dari 73,36 menjadi 73,54 tahun, sementara harapan lama sekolah meningkat dari 13,20 menjadi 13,21 tahun dan rata-rata lama sekolah meningkat dari 6,93 ke 7,03 tahun.
Selain itu, lanjutnya, pengeluaran riil per kapita per tahun juga meningkat dari Rp11.216.000 menjadi Rp11.713.000, sedangkan umur panjang dan hidup sehat meningkat, pengetahuan meningkat, standar hidup layak juga meningkat.
"Kalau secara keseluruhan peningkatan IPM menunjukkan adanya peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara umum di Situbondo pada tahun 2025," tuturnya.
Data BPS menyebutkan IPM pada tahun 2025 sebesar 71,87 poin masuk kategori tinggi, meskipun masih di bawah IPM Banyuwangi yakni 75,15 poin. Namun demikian IPM Situbondo mengungguli Bondowoso, Jember, Lumajang, dan Probolinggo.
BPS catat IPM Situbondo meningkat disebabkan perbaikan tiga dimensi
Jumat, 7 November 2025 13:39 WIB
Foto arsip--Papan pengumuman program Berantas Pemkab Situbondo, Jawa Timur. ANTARA/Novi Husdinariyanto
