Surabaya (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, temukan anak stunting dan ibu hamil yang berpotensi alami ancaman kesehatan, saat reses di wilayah Gubeng Masjid, Kecamatan Tambak Sari, Surabaya.
“Di kawasan yang notabene berada di tengah kota, masih ditemukan anak yang masuk kategori stunting dan pra-stunting. Bahkan, terdapat ibu hamil yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Ini menjadi keprihatinan serius bagi kami,” kata Cahyo, Sabtu.
Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan sistem pemantauan dan evaluasi di lapangan, khususnya melalui sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta unsur masyarakat.
Cahyo meminta Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan Kota Surabaya untuk lebih intensif melakukan pendampingan, monitoring, dan koordinasi dengan kader kesehatan, pengurus RT/RW, kelurahan, serta puskesmas.
“Monitoring harus dilakukan secara detail dan konkret. Semua pihak perlu dilibatkan agar kondisi masyarakat di lapangan benar-benar terpantau,” ujarnya.
Menurut dia, penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi memerlukan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan tokoh masyarakat, media, akademisi, dan dunia usaha.
Cahyo juga menyoroti adanya perbedaan data terkait prevalensi stunting yang perlu segera disinkronkan agar program penanganan dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Ia menilai, dengan kemampuan fiskal, potensi ekonomi, serta kemudahan akses informasi yang dimiliki Surabaya, seharusnya kota tersebut mampu menjadi daerah dengan prevalensi stunting yang sangat rendah.
“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Surabaya harusnya bisa menjadi contoh, baik dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat maupun penghapusan stunting,” ujarnya.
Selain aspek kesehatan, Cahyo juga menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan dan peningkatan indeks kualitas hidup masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan berdaya saing.
