Situbondo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, memberikan perlakuan khusus atau tindakan afirmatif untuk pelaksanaan tes kemampuan akademik atau TKA siswa SMP kelas IX yang sekolahnya terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu.

Banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) memporak-porandakan ribuan rumah warga di tujuh kecamatan, ratusan hektare lahan pertanian, dan membanjir puluhan lembaga pendidikan SD/SMP.

"Contohnya di sekolah ini, tidak lama lagi sudah pelaksanaan tes kemampuan akademik (TKA), tapi alatnya (komputer dan lainnya) rusak semua terendam banjir. Nanti saya bikin tindakan afirmatif supaya mereka itu boleh juga ikut," kata Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo saat meninjau kondisi sekolah terdampak banjir di SMPN 1 Banyuglugur, Situbondo, Kamis.

Dia menyampaikan puluhan sekolah SD/SMP terdampak banjir bandang sampai saat ini belum dilakukan perbaikan, namun tetap digunakan untuk proses belajar mengajar, salah satunya di SMPN 1 Banyuglugur.

Kondisi SMPN 1 Banyuglugur, kata  Rio, sangat memprihatinkan dan bahkan pagar sekolah dan ruang sekolah rusak akibat terendam banjir, semua alat elektronik seperti komputer, printer, meja kursi, buku paket siswa, juga ikut terendam, total kerugian mencapai sekitar Rp600 juta.

Puluhan sekolah jenjang SD dan SMP terdampak banjir bandang itu, lanjut Bupati Rio, tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kapongan, Kendit, Bungatan, Mlandingan, Besuki, Jatibanteng, Besuki, dan Banyuglugur.

Komputer dan printer SMPN1 Banyuglugur, Situbondo, Jawa Timur, rusak akibat terendam banjir bandang. Kamis (5/2/2026) ANTARA/Novi Husdinariyanto


"Data jumlah lembaga pendidikan yang terdampak banjir bandang terus berkembang, kami terus memperbarui datanya," kata dia.

Bupati mengaku telah rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI dan menyampaikan terkait dengan dampak serta kerugian banjir bandang di Situbondo, dengan harapan bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.

Dia sangat berharap bantuan dari pemerintah pusat mengingat banyak infrastruktur seperti jembatan, jalan desa, lahan pertanian, termasuk lembaga pendidikan terdampak banjir harus segera diperbaiki.

"Bagi kami yang terpenting kerusakan itu harus segera dibangun, kalau memang dananya melalui transfer ke daerah (TKD) atau langsung dibangun, tidak ada masalah, yang penting segera dibangun seperti awal," ucap Bupati Rio.

Jika tidak segera dibangun, kata dia, maka dampak yang akan ditimbulkan akibat banjir bandang akan lebih besar, salah satu contoh jembatan yang terputus, dan menutup akses antara Desa Wringinanom dan Desa Patemon, Kecamatan Jatibanteng.

"Kalau tidak segera diperbaiki, risikonya pasti akan lebih besar, secara ekonomi, itu menjadi tantangan kami di dalam konteks penanganan banjir ini," tutur dia.

Bupati mengapresiasi atensi dari berbagai pihak yang memberikan sumbangan kepada warga terdampak banjir, baik sumbangan dari ASN maupun dari berbagai pihak yang peduli korban banjir Situbondo.

"Tidak hanya pemerintah kabupaten, tapi semua staf aparatur ikut bergerak, masyarakat juga bergerak. Sumbangan tidak ada hentinya, tapi apakah itu cukup? Setelah kami hitung kebutuhan untuk semuanya, termasuk sekolah, sekitar Rp160 miliar," kata dia.



Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026