Malang (ANTARA) - Di kaki perbukitan hijau Ngantang, Kabupaten Malang, terhampar sebuah waduk yang airnya memantulkan warna langit, bagaikan cermin raksasa.
Waduk Selorejo yang dibangun 1963 dan diresmikan Presiden Soeharto pada 1970 itu berada di Desa Pandansari dengan luas sekitar 650 hektare,
Dahulu, waduk ini berdiri sebagai penopang kehidupan masyarakat agraris seperti untuk mengairi sawah, mengendalikan banjir di wilayah Brantas Hulu, serta menyalakan turbin pembangkit listrik tenaga air.
Seiring waktu, peran itu kian meluas. Di tepian waduk, kini berdiri warung-warung kecil, tempat warga menawarkan kopi dan ikan goreng sambil menikmati kilauan air Selorejo.
Perahu kayu berjajar menanti penumpang, sementara anak-anak berlarian di jalan setapak di antara pepohonan pinus. Selorejo, bukan hanya sumber air, tetapi juga sumber kehidupan baru.
Perubahan itu bukan datang tiba-tiba. Menurut Direktur Operasional Perum Jasa Tirta I, Milfan Rantawi, pengelolaan Waduk Selorejo, saat ini diarahkan pada dua hal, yakni menjaga fungsi konservasi, sekaligus membuka potensi wisata air berkelanjutan.
“Kami sedang menyiapkan Selorejo menjadi lokasi kegiatan olahraga air berskala nasional. Targetnya bisa menampung lebih dari seribu peserta dan penonton setiap event,” ucapnya.
PJT I, sebagai pengelola, terus melakukan revitalisasi di berbagai sisi. Dermaga diperkuat, jalur sepeda dibenahi, area lari diperlebar, serta fasilitas kano dan perahu wisata diperbaharui.
Semua dilakukan dengan prinsip keseimbangan, yakni bagaimana wisata bisa berkembang, tanpa mengganggu fungsi utama waduk sebagai pengendali banjir dan penyedia air baku.
Milfan menjelaskan, daya tampung waduk yang kini tersisa sekitar separuh dari kapasitas awal menjadi tantangan tersendiri.
Oleh karena itu, pengerukan sedimen dan perawatan rutin terus dilakukan, termasuk memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca untuk mengatur debit air.
Di balik kegiatan wisata di area Selorejo, konservasi tetap menjadi nadi utama pengelolaan karena waduk itu tidak hanya berisi air semata, melainkan juga hidup bersama masyarakat sekitar, menjadi bagian dari denyut ekonomi, budaya dan keseharian mereka.

Potensi baru
Selorejo, kini tengah menapaki babak baru sebagai tujuan wisata olahraga di Jawa Timur. Lanskap alamnya yang dikelilingi perbukitan dan udara sejuk menjadikannya tempat ideal untuk olahraga alam terbuka, seperti triatlon, bersepeda lintas alam, hingga dayung dan kano.
Lintasan alami di sekitar waduk sudah mulai dimanfaatkan komunitas sepeda dan pelari lokal. Beberapa kali uji coba triatlon kecil digelar untuk melihat potensi penyelenggaraan skala lebih besar.
Kondisi alam di Selorejo dinilai ideal karena memiliki trek sepeda yang menantang, lintasan lari yang asri, serta perairan yang cukup luas untuk kegiatan renang maupun dayung.
PJT I menyiapkan area parkir dan jalur akses baru yang lebih ramah wisatawan. Selain itu, sebagian kawasan akan ditata menjadi zona edukasi konservasi air, agar pengunjung tak hanya berwisata, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan.
Upaya tersebut mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur yang ikut mengenalkan Waduk Selorejo sebagai objek wisata air unggulan di wilayah Malang Raya.
Melalui laman resminya, Disbudpar Jatim menampilkan Selorejo sebagai kawasan wisata keluarga yang nyaman, sekaligus memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi arena olahraga air berkelanjutan.
Promosi digital, festival wisata, hingga kolaborasi dengan komunitas lokal menjadi bagian dari strategi pemerintah provinsi memperluas daya tarik Selorejo.
Di lapangan, masyarakat sekitar juga dilibatkan untuk mengelola penginapan, usaha kuliner, hingga penyewaan perahu. Sinergi antara pemerintah, pengelola waduk, dan warga inilah yang perlahan menumbuhkan wajah baru Ngantang sebagai kawasan wisata air yang hidup.
Setiap akhir pekan, suasana di sekitar waduk begitu ramai. Suara tawa wisatawan bercampur dengan riuh mesin perahu dan gemericik air di bawah dermaga.

Dari kejauhan, para pemancing bersabar menunggu ikan nila menyambar umpan, sementara anak-anak muda berswafoto di tepi bukit dengan latar langit jingga yang perlahan turun ke permukaan air.
Kehidupan ekonomi warga, kini lebih dinamis. Banyak yang dulunya hanya bergantung pada pertanian, kini mendapat penghasilan tambahan dari sektor wisata.
Milfan menyampaikan bahwa yang ingin mereka bangun, bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang kehidupan, karena bagi mereka Selorejo bukan hanya bendungan, melainkan juga kisah tentang bagaimana air membawa harapan.
PJT I menargetkan pengembangan penuh kawasan wisata Selorejo rampung pada 2026. Saat itu, seluruh fasilitas olahraga air, jalur sepeda, area perkemahan, hingga sarana edukasi konservasi akan siap untuk umum.
Ia berharap, Selorejo bisa menjadi model kolaborasi pengelolaan waduk berbasis masyarakat, di mana pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi lokal.
Dari puncak bukit di sisi timur waduk, panorama Selorejo tampak menawan. Gunung Kawi berdiri megah di kejauhan, kabut tipis menggantung di atas permukaan air, dan gema burung pagi terdengar samar.
Siapa sangka waduk yang lahir dari proyek pengairan setengah abad lalu itu, kini menjelma menjadi pusat kegiatan wisata dan olahraga alam.
Ketika Matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Ngantang, warna keemasan menari di atas air yang tenang. Dari kejauhan, suara azan menyatu dengan desir angin yang lembut.
Dari situlah Selorejo bercerita tentang bagaimana sebuah waduk tua bisa hidup kembali, menyatukan air, alam dan manusia dalam harmoni yang menenangkan.
