Ponorogo, Jatim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyiapkan kebijakan baru yang menonjolkan identitas budaya daerah, dengan menerbitkan peraturan bupati tentang seragam sekolah bernuansa penadon, pakaian adat khas daerah dengan sebutan "Bumi Reog" itu, untuk pelajar TK hingga SMA/SMK.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko di Ponorogo, Jawa Timur, Jumat, mengatakan rancangan seragam itu akan diberi nama penadon pemuda (donda) dan penadon pemudi (dondi).

Desain seragam dibuat lebih modern, "slim fit", dengan tetap memancarkan karakter "Ponoragan".

"Sekarang ada donda dan dondi, modelnya stylist, punya ciri khas Ponorogo. Ini sekaligus menghidupkan ekonomi lokal dan menumbuhkan rasa cinta pada daerah," ujar Bupati Sugiri atau akrab disapa Kang Giri itu.

Warna dasar pakaian akan tetap hitam seperti penadon tradisional, namun diperkaya corak batik khas Ponorogo agar lebih menarik bagi generasi muda.

"Tujuannya mengenalkan seni budaya dan karakter 'Ponoragan' kepada anak-anak sejak dini, supaya mereka bangga dengan jati diri daerahnya," katanya.

Ia mengatakan rancangan perbup tersebut masih dalam tahap penyusunan bersama tim perancang dan unsur pendidikan.

Setelah selesai, kebijakan ini akan disosialisasikan ke seluruh sekolah agar dapat segera diimplementasikan.

"Kami ingin identitas Ponorogo sebagai kota budaya dan santri semakin kental, tidak hanya pada momen tertentu, tetapi menjadi bagian dari keseharian pelajar," ucapnya.

Bupati dua periode itu, menjelaskan kebijakan seragam penadon melanjutkan tradisi yang sudah lebih dulu diterapkan di lingkungan aparatur sipil negara (ASN).

Penadon saat ini menjadi busana wajib ASN setiap bulan sekali pada pekan terakhir dan dikenakan penuh selama perayaan Grebeg Suro.

"Ke depan, selain donda dan dondi, ada juga penadon untuk kalangan usia lanjut. Masyarakat setiap Jumat juga kami dorong mengenakan sarung bagi laki-laki dan gamis untuk perempuan sebagai bentuk penghormatan budaya," ujarnya.

Sugiri berharap, penerapan seragam penadon di sekolah tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mendukung perekonomian kreatif, khususnya perajin batik dan pelaku usaha busana tradisional di Ponorogo.

"Kalau seragam khas ini dipakai rutin, otomatis akan menambah peluang usaha dan lapangan kerja di sektor konveksi dan batik lokal,” katanya.

 



Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026