Surabaya (ANTARA) - Langkah kaki yang memasuki Museum Dr Soetomo Kota Surabaya pada awal Juni ini tidak hanya berhadapan dengan etalase benda-benda masa lalu. Di ruang yang selama ini identik dengan koleksi sejarah, pengunjung justru diajak memasuki sebuah perjalanan yang lebih personal tentang manusia, budaya, dan tanah air yang disebut Pertiwi.
Melalui "Cross Musea Pertiwi", Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan sesuatu yang berbeda. Tiga museum dari tiga institusi berbeda dipertemukan dalam satu ruang narasi. Museum Etnografi Universitas Airlangga, Museum Mpu Tantular Sidoarjo, dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta berkolaborasi menyusun kisah tentang perjalanan hidup manusia dari lahir hingga akhir hayat.
Kolaborasi ini tampak sederhana sebagai sebuah pameran. Namun jika dicermati lebih jauh, "Cross Musea Pertiwi" sebenarnya berbicara tentang isu yang lebih besar, yakni bagaimana museum berjuang menemukan kembali relevansinya di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Di era ketika perhatian publik direbut media sosial, video pendek, dan kecerdasan buatan, museum tidak lagi cukup hanya mengandalkan koleksi yang disimpan di balik kaca. Tantangan terbesar museum masa kini bukan sekadar menjaga benda bersejarah, melainkan menjaga agar sejarah tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Narasi baru
Museum, selama bertahun-tahun menghadapi persoalan yang hampir seragam. Banyak orang menganggap museum sebagai tempat yang penting, tetapi tidak selalu menarik untuk dikunjungi.
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat kunjungan museum di Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Di banyak daerah, museum, bahkan lebih sering menjadi tujuan kunjungan wajib pelajar daripada ruang belajar yang dipilih secara sukarela oleh masyarakat.
Fenomena ini bukan semata kesalahan museum. Cara masyarakat mengonsumsi informasi memang telah berubah drastis. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang menuntut pengalaman cepat, visual, dan interaktif.
Karena itu, munculnya konsep pameran imersif dalam "Cross Musea Pertiwi" menjadi langkah yang menarik. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi diajak berinteraksi dengan narasi yang dibangun melalui teknologi, instalasi visual, area digital, dan ruang pengalaman.
Transformasi seperti ini sedang berlangsung di berbagai belahan dunia. Museum-museum besar, seperti Rijksmuseum di Belanda, Louvre di Prancis, hingga National Museum of Singapore mulai menggabungkan teknologi digital dengan koleksi konvensional untuk menciptakan pengalaman yang lebih dekat dengan pengunjung.
Museum tidak lagi sekadar tempat penyimpanan artefak, melainkan ruang dialog antara masa lalu dan masa kini.
Surabaya, tampaknya sedang bergerak ke arah yang sama. Kota ini menyadari bahwa pelestarian sejarah tidak cukup dilakukan melalui konservasi benda. Hal yang lebih penting adalah menciptakan keterhubungan emosional antara masyarakat dengan warisan budayanya.
Di titik inilah "Cross Musea Pertiwi" menjadi relevan. Pameran ini mencoba menerjemahkan sejarah ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami generasi sekarang.
Narasi kolektif
Hal lain yang menarik dari Cross Musea Pertiwi adalah keberanian meninggalkan pola lama yang cenderung berjalan sendiri-sendiri.
Selama ini banyak museum bekerja dalam ruangnya masing-masing. Koleksi disimpan, dipamerkan, lalu menunggu pengunjung datang. Padahal, nilai sejarah dan budaya sering kali justru muncul ketika berbagai perspektif dipertemukan.
Kolaborasi antara museum di Surabaya, Sidoarjo, dan Yogyakarta menunjukkan bahwa sejarah Indonesia tidak dapat dibaca secara parsial. Setiap daerah menyimpan potongan cerita yang saling melengkapi.
Tema Pertiwi yang diangkat dalam pameran ini menjadi contoh menarik. Kehidupan manusia dipahami bukan hanya dari sudut pandang sejarah politik atau peristiwa besar, melainkan juga melalui tradisi, ritual, nilai sosial, dan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Pendekatan semacam ini penting karena masyarakat Indonesia sesungguhnya lebih dekat dengan sejarah keseharian dibanding sejarah yang hanya berisi nama tokoh dan tanggal peristiwa.
Anak muda mungkin tidak selalu tertarik menghafal kronologi sejarah. Namun mereka lebih mudah terhubung ketika sejarah hadir dalam bentuk cerita tentang keluarga, tradisi, identitas, dan pengalaman hidup yang masih relevan hingga saat ini.
Cross Musea Pertiwi menunjukkan bahwa museum dapat menjadi ruang yang menjembatani pengetahuan akademik dengan pengalaman publik.
Lebih jauh lagi, kolaborasi antarmuseum juga memiliki nilai strategis bagi pengembangan pariwisata budaya. Selama ini wisata perkotaan sering didominasi pusat perbelanjaan, kuliner, dan hiburan modern. Padahal, kota-kota besar membutuhkan ruang budaya yang mampu memperkaya pengalaman wisatawan.
Surabaya memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem wisata sejarah yang lebih kuat. Museum Dr Soetomo, Tugu Pahlawan, kawasan Kota Lama, hingga sejumlah bangunan cagar budaya dapat dihubungkan dalam satu narasi yang utuh mengenai perjalanan bangsa.
Jika dikelola secara kreatif, museum tidak hanya menjadi aset budaya, tetapi juga penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.
Ingatan bertahan
Meski demikian, pameran, seperti Cross Musea Pertiwi, tidak boleh berhenti sebagai kegiatan musiman.
Tantangan sebenarnya muncul setelah pameran selesai. Pertanyaannya adalah apakah semangat kolaborasi, inovasi, dan keterlibatan publik itu dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang museum di Indonesia.
Transformasi museum memerlukan dukungan yang lebih luas. Pemerintah perlu memperkuat digitalisasi koleksi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membangun kemitraan dengan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku industri kreatif.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu melihat museum bukan sekadar tempat menyimpan benda tua, melainkan ruang belajar yang membantu memahami identitas bersama.
Dalam konteks yang lebih luas, museum sebenarnya memiliki peran penting di tengah derasnya arus informasi digital. Ketika informasi dapat diproduksi dan disebarkan dalam hitungan detik, museum hadir sebagai ruang yang menjaga akurasi, konteks, dan memori kolektif.
Bangsa yang kehilangan ingatan sejarah akan kesulitan memahami arah masa depannya. Sebaliknya, bangsa yang mampu merawat ingatan dapat menjadikan masa lalu sebagai sumber inspirasi untuk menghadapi tantangan baru.
Cross Musea Pertiwi menawarkan pesan tersebut dengan cara yang lebih segar. Ia tidak mengajak pengunjung bernostalgia semata, tetapi mengajak merenungkan hubungan antara manusia, budaya, dan tanah air dalam kehidupan yang terus berubah.
Di tengah kota yang terus tumbuh dengan gedung baru, teknologi baru, dan gaya hidup baru, kehadiran museum yang mampu bertransformasi menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya.
Barangkali di situlah makna paling penting dari Pertiwi. Bukan sekadar nama tema sebuah pameran, melainkan upaya menjaga percakapan antara masa lalu dan masa depan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026