Surabaya, (Antara) - Pengurus LDII mengajak kepada calon dai untuk memahami pentingnya sikap toleran sesama manusia, terutama dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Ketua DPW LDII Provinsi Jawa Timur Amien Adhy di Surabaya, Sabtu mengatakan toleransi memang sangat dibutuhkan, terutama dalam kehidupan bernegara seperti saat ini.
"Oleh karena itu, pada kegiatan diklat bagi calon dai ini, kami ingin mengenalkan pentingnya sikap toleran tersebut," katanya di sela kegiatan diklat dakwah dan fiqih kepada calon dai di Kampus UINSA.
Ia mengemukakan, kegiatan ini tidak hanya diikuti warga LDII, tapi juga ormas lainnya dengan peserta yang ikut perwakilan dari 38 kabupaten atau kota di Jatim
"Seluruh Jatim hadir, ini perwakilan 38 DPD kabupaten atau kota, juga ada dari pondok pesantren, ada peserta teman-teman dari NU dan Muhammadiyah, PITI juga ada. Selain membekali dengan ilmu-ilmu Al-Quran dan Hadits, kami juga memberikan pembekalan ilmu pengetahuan," katanya.
Selain pemahaman akan pentingnya toleransi, hal yang penting bagi calon dai ini kata Amien yakni adanya materi deradikalisasi, dan bela negara.
"Sebagai warga timur, hendaklah budaya ketimuran tetap dijaga sebagai jati diri bangsa. Sebelum diterjunkan di tengah masyarakat, para dai ini akan digembleng melalui tahap mengajar di beberapa pondok pesantren maupun madrasah," Katanya.
Setelah mendapatkan diklat ini, nanti para dai tersebut akan melaksanakan tugas wajib belajar dan selanjutnya akan ditugaskan ke tempat dimanapun.
"Yang jelas, kalau di pulau Jawa selama satu setengah tahun dan kalau di luar Jawa selama satu tahun," katanya.
Sementara itu, menurut Kepala Seksi Pembinaan Rohani Islam Kodam V/Brawijaya Mayor Sholihuddin, salah satu narasumber mengatakan, peran dai sekarang ini dapat dikatakan berat, karena itu pembekalan cinta Tanah Air harus ditumbuhkan.
"Dakwah itu jangan sampai menjadikan umat tidak memiliki motivasi, yang kami sampaikan kemandirian dalam semua aspek, termasuk waspada terhadap ancaman," katanya.
Selain materi tentang dakwah dan fiqih, para calon dai ini juga diberikan pemahaman toleransi dimana keterlibatan Kementerian Agama sebagai basis kekuatan negara diharapkan mampu menjadikan dai sebagai pemecah masalah dan bukan justru menimbulkan masalah.
"Dari pembekalan yang diberikan peserta diklat dai ini punya wawasan toleran terhadap pemikiran-pemikiran orang lain, bukan kemudian masuk di dalamnya dan malah adu domba, kamj ingin dai itu sebagai pengayom, tambah, Dr. H. Sahid HM, M. Ag, yang juga Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UINSA.(*)
Pewarta: Indra SetiawanEditor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026