Surabaya (Antara Jatim) - Pameran buku internasional bertajuk "The Big Bad Wolf Book Sale" selama 278 jam nonstop akan digelar di Surabaya pada 20-31 Oktober 2016.
"Total terdapat dua juta eksemplar berbagai jenis buku yang disediakan selama pameran di JX International Surabaya," ujar Presiden Direktur PT Jaya Ritel Indonesia Uli Silalahi selaku penyelenggara pameran kepada wartawan di Surabaya, Kamis.
Pameran buku ini merupakan kali kedua digelar di Indonesia setelah pada akhir April hingga awal Mei lalu diselenggarakan di Jakarta.
Tujuannya, kata dia, menggairahkan kembali minat baca masyarakat Indonesia sekaligus lebih mencintai buku karena merupakan "jendela dunia" dan mencerdaskan bangsa.
"Apalagi sesuai data yang kami terima, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara di dunia yang memiliki daftar literatur dalam tingkat minat bacanya. Ini tentu harus diperbaiki," ucapnya.
Pada penyelenggaraan pameran nantinya, buku-buku yang dijual terdiri dari berbagai jenis mulai fiksi maupun non-fiksi, baik dalam maupun luar negeri dengan potongan harga hingga mencapai 60-80 persen.
Pihaknya menargetkan sebanyak 500 ribu pengunjung akan hadir dalam pameran tanpa biaya tiket masuk tersebut dengan transaksi terjual lebih dari 80 persen buku.
"Kalau dibandingkan di Jakarta, pengunjungnya lebih dari 350 ribu dan transaksi yang terjual 80 persen dari dua juta eksemplar buku. Harapan kami di Surabaya lebih meningkat lagi," katanya.
Sementara itu, Direktur Operasional Mizan Group, Rusydi Addibani, selaku partner penerbit Indonesia pada pameran kali ini mengaku antusias dan bersemangat untuk hadir di Surabaya selama 12 hari acara.
Pihaknya juga mengaku berbangga menjadi satu-satunya partner penerbit Indonesia dengan menyediakan berbagai jenis buku mulai dari buku anak, agama, novel, komik, hingga perjalanan atau wisata.
Di sisi lain, pihaknya juga mengaku tak khawatir dengan era digital saat ini karena telah disiapkan berbagai cara maupun strategi untuk mengantisipasinya.
"Kami sangat yakin dan optimistis peran buku tidak akan tergantikan dan menghilangkan minat baca. Pameran di Jakarta lalu menjadi salah satu bukti bagaimana antusias masyarakat membaca serta memiliki buku," katanya. (*)
