"Surga berada di bawah telapak kaki ibu". Perumpamaan itu menggambarkan betapa agungnya seorang ibu di hadapan kita, bahkan banyak syair lagu maupun puisi yang memuji kebesaran, keikhlasan dan ketulusan hati seorang ibu. Kita tak pernah menyadari betapa kuatnya seorang ibu, mulai mengandung hingga melahirkan yang bertaruh nyawa demi keselamatan anak-anaknya, bahkan ibu pun tak pernah mengeluh, tak pernah menyesal, apapun sikap dan tingkah laku anak-anaknya, seorang ibu selalu memaafkan. Hanya saja, seiring berkembangnya zaman, majunya teknologi, mudahnya akses perempuan dalam perpolitikan dan dunia kerja, secara perlahan wejangan-wejangan seorang ibu "tradisional" yang dulu sering kita dengar mulai ditinggalkan. Apalagi, ibu-ibu muda zaman sekarang, jarang yang mengenal pekerjaan utama seorang ibu, mendidik, menemani anak-anaknya belajar, menyiapkan segala keperluan keluarganya tak lagi menjadi sesuatu yang wajib untuk dikerjakan. Tugas itu mulai dibagi dengan pasangan hidupnya (suami), bahkan tak sedikit hampir semua kewajiban rumah tangganya dibebankan pada pembantu. Padahal, anak-anak kita membutuhkan sentuhan tangan dan ucapan-ucapan lembut seorang ibu, sehingga jangan disalahkan ketika anak-anak lebih dekat dan lebih mengenal pembantunya daripada ibu yang melahirkannya. Seorang ibu, tidak dilarang untuk bekerja membantu menopang ekonomi keluarga. Namun, apakah harus dengan cara meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri, bahkan seorang ibu? Begitu besar jasa dan agungnya seorang ibu, pemerintah pun sampai menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Untuk memperingati hari ibu itupun beragam cara, beragam kegiatan digelar, mulai dari lomba-lomba yang seluruhnya bersentuhan dengan keseharian seorang ibu hingga seminar yang hampir tak pernah dikenal oleh kaum ibu di pedesaan. Apa yang bisa kita lakukan, apa yang bisa diperbuat pemerintah terhadap ibu-ibu yang ada di pedesaan, bahkan di pedalaman ini agar mereka juga merasakan gegap gempitanya perayaan hari ibu yang mungkin tidak pernah mereka rasakan, bahkan mungkin tidak pernah mereka tahu. Sebenarnya, bukan gempitanya atau perayaan hari ibu itu sendiri yang menjadi penting. Tapi, bagaimana kita sebagai anak bisa menghormati, berbakti dan menghargai jerih payah, kerja keras seorang ibu yang dengan tulus membesarkan anak-anaknya. Namun sayang, peran ibu dalam keluarga, kasih sayang dan sentuhan lembut seorang ibu secara perlahan mulai tergusur, bahkan sedikit demi sedikit mulai tergantikan oleh tenaga seorang baby sitter atau pembantu karena sang ibu yang lebih mementingkan kesibukannya sebagai perempuan karier. Kita semua berharap, meski berkarier di luar rumah, seorang ibu tidak akan melupakan kewajibannya terhadap keluarga. Dan, kita sebagai anak, juga tidak akan pernah melupakan jasa besar seorang ibu yang rela bertaruh nyawa demi kelahiran kita. (*) (endang_mlg@yahoo.com)
Berita Terkait
Aksi koboi nan arogan Trump terhadap Presiden Maduro
4 Januari 2026 14:30
KUHP beri batasan jelas antara kritik dan penghinaan
3 Januari 2026 11:18
Strategi menghindari jebakan impor beras pada 2026
2 Januari 2026 11:22
Negara harus hadir cegah modal politik tinggi
2 Januari 2026 10:02
NU dan kegagapan diskursus kekuasaan
31 Desember 2025 10:00
Banjir bandang, alarm kuat dari alam untuk manusia
30 Desember 2025 22:45
Tahun 2026, dunia tidak menuju keteraturan baru
30 Desember 2025 08:43
Arsip terdampak bencana Sumatra butuh perhatian pemerintah pusat
29 Desember 2025 17:56
