Washington (ANTARA/Xinhua-OANA) - Pasien diabetes yang menderita kanker indung telur dan mengkonsumsi obat metformin untuk diabetes mereka memiliki angka kesembuhan lebih baik dibandingkan dengan pasien yang tidak menggunakan obat itu, demikian hasil satu studi baru di Amerika Serikat. Temuan tersebut, yang disiarkan daring di jurnal Cancer pada Senin (3/12), mungkin memainkan peran penting dalam penelitian mengenai bagaimana menggunakan obat yang ada untuk mengobati penyakit baru atau berbeda. Metformin adalah obat yang diberikan secara luas untuk mengobati diabetes, dan penelitian sebelumnya oleh peneliti lain telah memperlihatkan janjinya bagi kanker lain. Studi baru itu menambahkan kanker indung telur pada daftar tersebut. Para peneliti membandingkan penyintasan 61 pasien kanker indung telur yang menggunakan metformin dan 178 pasien yang tidak mengkonsumsi metformin, kata Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Selasa malam. Sebanyak 67 persen pasien yang menggunakan metformin selamat setelah lima tahun, dibandingkan dengan 47 persen mereka yang tidak menggunakan obat itu. Ketika para peneliti tersebut menganalisis berbagai faktor seperti indeks massa tubuh pasien, parahnya kanker mereka, jenis kemoterapi dan kualitas operasi, mereka mendapati pasien yang mengkonsumsi metformin hampir empat kali lipat lebih mungkin untuk selamat, dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan obat itu. "Studi kami memperlihatkan peningkatan penyintasan pada perempua yang menderita kanker indung telur dan menggunakan metformin," kata penulis bersama studi itu Sanjeev Kumar, ahli onkologi ginekologi dari di Mayo Clinic --yang berpusat di Minnesota. "Hasilnya membesarkan hati, tapi seperti halnya studi retrospektif, kami tak bisa memantau banyak faktor untuk mengatakan apakah ada dampak dan penyebab langsung. Meskipun begitu, ini adalah bukti manusia lebih jauh mengenai potensi dampak bermanfaat dari obat yang banyak digunakan dan relatif aman bagi manusia." Hasil itu bisa melicinkan jalan bagi penggunaan metformin dalam percobaan acak secara luas untuk mengobati kanker indung telur, kata para peneliti tersebut. Mengingat tingginya angka kematian akibat kanker indung telur, para peneliti itu mengatakan ada kebutuhan sangat besar untuk mengembangkan terapi baru untuk mengobati penyakit tersebut. Metformin mungkin berpotensi menjadi salah satu pilihan, kata mereka. (*)
Berita Terkait
Aksi koboi nan arogan Trump terhadap Presiden Maduro
4 Januari 2026 14:30
KUHP beri batasan jelas antara kritik dan penghinaan
3 Januari 2026 11:18
Strategi menghindari jebakan impor beras pada 2026
2 Januari 2026 11:22
Negara harus hadir cegah modal politik tinggi
2 Januari 2026 10:02
NU dan kegagapan diskursus kekuasaan
31 Desember 2025 10:00
Banjir bandang, alarm kuat dari alam untuk manusia
30 Desember 2025 22:45
Tahun 2026, dunia tidak menuju keteraturan baru
30 Desember 2025 08:43
Arsip terdampak bencana Sumatra butuh perhatian pemerintah pusat
29 Desember 2025 17:56
