Rinciannya, Jatim menjual Rp764,912 miliar, membeli Rp153,896 miliar, dan terdapat potensi investasi senilai Rp150 miliar
Surabaya (ANTARA) - Misi dagang yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di Kota Mataram, Rabu, mencatatkan transaksi tertinggi sepanjang tahun 2025, dengan nilai mencapai Rp1,068 triliun.
Capaian tersebut melampaui transaksi misi dagang sebelumnya yang digelar di Kalimantan Timur pada Mei 2025 sebesar Rp1,053 triliun, serta meningkat drastis dibandingkan dengan transaksi pada misi dagang tahun 2023 yang hanya mencapai Rp251,39 miliar.
Misi dagang ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan dihadiri oleh sedikitnya 200 pelaku usaha, terdiri dari 80 pelaku usaha asal Jatim dan 120 pelaku usaha asal NTB.
“Alhamdulillah, hingga pukul 17.00 WITA, transaksi final tercatat mencapai Rp1,068 triliun. Rinciannya, Jatim menjual Rp764,912 miliar, membeli Rp153,896 miliar, dan terdapat potensi investasi senilai Rp150 miliar,” ujar Gubernur Khofifah.
Ia mengatakan pencapaian tersebut melebihi target awal dan menjadi bukti kuat bahwa relasi bisnis antara Jatim dan NTB telah terbangun dengan baik.
"Embrio bisnis Jatim dan NTB sudah terbentuk. Mari kita perkuat agar ke depan dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kedua provinsi,” tambahnya.
Dalam transaksi tersebut, produk-produk yang dijual pelaku usaha dari Jatim antara lain pakan ikan dan udang, rokok, kopi, cabai, daging ayam beku, daging bebek, ayam kampung, produk batik, fesyen, dan bumbu dapur organik.
Sementara itu, produk yang dibeli Jatim dari NTB mencakup komoditas seperti yellowfin tuna, tembakau, jagung, hasil perikanan, kulit kambing mentah garaman, bibit bawang merah, serta sapi hidup.
Khofifah menjelaskan bahwa selama ini NTB menjadi penyuplai sejumlah komoditas penting bagi Jatim seperti jagung, tembakau, udang, cabai dan paprika segar, umbi-umbian, dan ikan hias. Di sisi lain, Jatim menyuplai mobil penumpang, kue kering manis, pakan hewan, obat-obatan, minyak kelapa sawit murni, dan minuman ringan ke NTB.
"Kami berharap misi dagang ini dapat memperkuat kerja sama ekonomi dan budaya antara Jawa Timur dan NTB. Tidak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga memperluas jaringan bisnis dan membuka peluang investasi,” katanya.
Lebih jauh, Khofifah mengatakan bahwa kegiatan misi dagang merupakan bagian dari strategi perluasan pasar dalam negeri, terutama dalam konteks penguatan distribusi bahan pokok dan penting, melalui optimalisasi muatan berangkat dan muatan balik antarpulau.
“Kami ingin mendorong integrasi pasar dalam negeri. Untuk itu, diperlukan semangat dan kerja sama antar daerah, termasuk dengan NTB, dalam memperkuat perdagangan antarwilayah,” ucapnya.
Khofifah menambahkan, berdasarkan data tahun 2023, neraca perdagangan antara Jatim dan NTB mengalami surplus sebesar Rp5,29 triliun, menandakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
"Kami optimistis misi dagang ini terus membuka peluang usaha yang lebih luas, meningkatkan volume perdagangan, serta memperkuat jaringan bisnis antara kedua provinsi," katanya.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal yang turut hadir dalam agenda tersebut menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Pemprov Jatim.
“Kami siap menjadi penyedia bahan baku yang andal bagi Jawa Timur. Relasi dagang ini akan saling mengisi dan membuka lebih banyak peluang usaha. Banyak hal yang bisa kami pelajari dari Jatim,” kata Iqbal.
Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara kedua provinsi yang melibatkan dua perangkat daerah, sembilan BUMD, dan tiga asosiasi usaha.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026