menguntungkan secara ekonomi dan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat

Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong pengembangan industri kayu berbasis kelestarian hutan melalui penguatan tata kelola kehutanan, hilirisasi produk, dan perluasan akses pasar global guna meningkatkan daya saing sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya hutan.

Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur Jumadi mengatakan permintaan pasar dunia terhadap produk kayu berkelanjutan terus meningkat sehingga menjadi peluang besar bagi industri hasil hutan nasional untuk berkembang.

"Dunia tidak hanya membutuhkan produk kayu berkualitas, tetapi juga produk yang berkelanjutan secara ekologis, menguntungkan secara ekonomi dan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat," katanya saat pembukaan Indowood Expo 2026 di Surabaya, Kamis.

Ia menjelaskan, Jawa Timur merupakan salah satu pusat industri pengolahan kayu terbesar di Indonesia dengan sekitar 1.332 unit industri yang memproduksi plywood, furnitur, moulding, engineered wood, dan berbagai produk kreatif berbasis kayu untuk pasar internasional.

Menurut dia, kekuatan tersebut didukung ekosistem kehutanan yang terintegrasi mulai dari produksi kayu hutan rakyat sekitar 3,5 juta hingga 4 juta meter kubik per tahun, program perhutanan sosial, pasokan kayu antarwilayah, tenaga kerja terampil, hingga jaringan ekspor global.

"Nilai ekspor produk hasil hutan dan industri kayu Jawa Timur mencapai sekitar 2,5 miliar dolar Amerika Serikat dan menjadi salah satu kontributor penting bagi perekonomian daerah maupun nasional," ucapnya.

Jumadi mengatakan Pemprov Jatim terus mendorong empat agenda strategis untuk memperkuat daya saing industri hasil hutan, yakni memperkuat hilirisasi hasil hutan, memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan, memperluas akses pasar global melalui sertifikasi dan inovasi, serta mempercepat pembangunan ekonomi hijau.

Upaya tersebut, kata dia, antara lain dilakukan melalui pengembangan Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan Rakyat (SIPUHH-R) guna mendukung ketelusuran asal-usul kayu rakyat dan memperkuat tata kelola serta sertifikasi keberlanjutan.

Selain menjadi ajang promosi produk kayu dan furnitur, dirinya berharap Indowood Expo 2026 menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat investasi, inovasi, dan transformasi industri kehutanan Indonesia.

"Industri kayu Indonesia tidak sedang berjalan mengikuti perubahan global, tetapi Indonesia sedang memimpin perubahan itu," tuturnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung mengatakan penyelenggaraan Indowood Expo untuk kedua kalinya merupakan hasil kolaborasi Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Dyandra Promosindo, dan Pablo Publishing dalam membangun ekosistem industri kayu nasional yang lebih kuat.

Ia menilai penguatan sektor hulu melalui pemanfaatan teknologi dan mesin industri menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat pertumbuhan ekspor produk kayu Indonesia.

"Pada akhirnya buahnya adalah nilai ekspor yang bertambah, tetapi itu akan sulit dicapai jika kita tidak memperkuat industri hulunya, yaitu machinery dan teknologi," katanya.

Daswar menambahkan Indowood Expo 2026 menghadirkan berbagai teknologi dan mesin pengolahan kayu terkini sekaligus menjadi sarana edukasi serta pertemuan langsung antara produsen mesin dan pelaku industri.

Pameran yang berlangsung di Grand City Surabaya tersebut, menargetkan sebanyak 4.000 pengunjung dari kalangan pelaku industri, asosiasi, akademisi, hingga investor.

"Hal ini untuk memperluas jejaring bisnis dan mendorong pertumbuhan industri hasil hutan nasional, yang digelar di wilayah representatif di Surabaya," tuturnya.



Pewarta: Naufal Ammar Imaduddin
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026