Surabaya (ANTARA) - Ahli Sosiologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) Radius Setiyawan mengatakan pemerintah harus merespons secara positif adanya tagar #KaburAjaDulu.
"#KaburAjaDulu bukan berarti masyarakat tidak nasionalis, melainkan bentuk kecintaan generasi muda terhadap Indonesia," kata Radius di Surabaya, Rabu.
Menurutnya kemunculan #KaburAjaDulu adalah bentuk tanggapan cepat atas persoalan yang terjadi hari ini, itu adalah ekspresi kemarahan, kekecewaan, keputusasaan, dan protes anak-anak muda yang disampaikan kepada publik dan pemerintah lewat media sosial.
Ekspresi kekecewaan tersebut muncul di tengah rilis tingkat kepuasan 100 hari kerja pemerintah yang mencapai 80 persen. Hal ini, kata Radius, merupakan anomali yang perlu diperhatikan pemerintah.
"Pemerintah dengan bangganya menyuguhkan rating (kinerja), tetapi di satu sisi ada fenomena itu. Saya kira pemerintah perlu menjadikan itu perhatian," katanya.
Ia menilai, ekspresi tersebut berkaitan dengan efisiensi anggaran di bidang-bidang penting seperti pendidikan, energi, penanganan bencana, dan krisis iklim.
Dia juga menyayangkan pernyataan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer yang justru memicu kontroversi.
"Saya kira justru kontraproduktif. Komunikasi pemerintah ke khalayak, khususnya anak-anak muda, seharusnya tidak seperti itu," ujarnya.
Pemerintah, lanjut dia, perlu merespons positif ekspresi anak muda dan tidak bersikap sinis.
"Kabinet yang kinerjanya masih panjang harus mendengarkan masukan-masukan anak muda dan perlu melakukan perbaikan-perbaikan," ujarnya.
Radius mengapresiasi pernyataan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Dzulfikar Ahmad Tawalla yang menilai #KaburAjaDulu sebagai bentuk ekspresi anak muda dalam melihat realitas sosial.
"Hal ini seharusnya menjadi momentum untuk memberikan pemahaman tentang jalur aman dan terjamin bagi pekerja migran," tuturnya.
Pakar UM Surabaya: Pemerintah harus respons positif #KaburAjaDulu
Rabu, 19 Februari 2025 16:32 WIB

Ahli Sosiologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Radius Setiyawan. (ANTARA/Dokumen pribadi)