Malang - Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur, kesulitan mencari investor untuk mengembangkan kawasan Taman Wisata Rakyat yang berlokasi di belakang balai kota setempat. Wali Kota Malang Peni Suparto, Jumat, mengakui, dirinya sampai sekarang belum mendapatkan investor yang mau berinvestasi untuk mengembang Taman Wisata Rakyat (Tawira) karena arealnya yang tidak mendukung. "Sebelum menginvestasikan dananya pasti para investor berpikir untung dan ruginya, apalagi Tawira membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit. Namun, nilai keuntungannya sangat kecil dan butuh waktu lama investasi itu bisa kebali (balik modal)," tegasnya. Sebab, kata mantan anggota DPR RI itu, masyarakat yang rekreasi atau menghilangkan penat ke Tawira tidak ditarik tiket masuk, hanya retribusi masuk kolam renang. Satu-satunya upaya yang bisa dilakukan Pemkot Malang setelah gagal menggaet investor, tegasnya, adalah menggunakan dana dari Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Akan tetapi, lanjut Peni, penggunaan anggaran dari APBD juga harus melalui persetujuan dewan dan nominalnya yang menentukan juga dewan, sehingga pengembangan Tawira juga ada ditangan dewan. Namun demikian, Pemkot Malang tetap akan mempertahankan keberadaan Tawira, meski anggaran untuk perawatan hanya mengandalkan dari APBD dan nilainya juga kecil. Karena sulitnya mengembangkan keberadaan Tawira, Pemkot malang akhirnya mengalihkan perhatiannya untuk mengembangkan potensi wisata di tempat lain, seperti di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tlogowaru seluas 8 hektare. "Selain sebagai RTH atau hutan kota, di kawasan itu juga akan dibangun kebun bunga, salah satunya berbagai macam anggrek yang nantinya dikelola oleh Persatuan Anggrek Indonesia," tegas Peni. Kondisi Tawira yang berada di belakang Balai Kota Malang itu cukup memprihatinkan. Kandang berbagai jenis satwa yang dilindungi, bahkan keberadaannya sudah mendapatkan SK dari Kementerian Kehutanan sebagai lembaga konservasi. Selain kondisi kandang satwa yang sudah memprihatinkan, keberadaan besi pembatas yang ada di bibir Sungai Brantas juga banyak yang hilang, sehingga diganti dengan bambu. Anggaran yang dikucurkan dari APBD untuk Tawira rata-rata mencapai Rp275 juta yang digunakan untuk pemeliharaan dan pembelian makan bagi satwa yang ada di taman hiburan tersebut.


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026