Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Jawa Timur siap mendistribusikan 500 ton sampah per hari untuk mendukung operasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan dibangun di Kabupaten Malang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran di Kota Malang, Jumat, mengatakan PSEL merupakan program yang diperuntukkan mengatasi persoalan sampah di wilayah aglomerasi, sehingga masing-masing pemerintah daerah punya andil dalam menyukseskan pelaksanaannya.
"Pelaksanaan PSEL bukan di Kota Malang, tetapi di kabupaten. Cuma karena aglomerasi, makanya nanti Kota Malang wajib menyetorkan sampahnya 500 ton per hari ke lokasi PSEL," kata Raymond.
DLH setempat memprioritaskan pengambilan sampah dari wilayah Kecamatan Sukun dan Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang lantaran jaraknya terbilang dekat calon lokasi proyek PSEL di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.
Jarak tempuh dari dua kecamatan ke fasilitas pengolahan diperkirakan hanya sejauh tiga kilometer.
Raymond menyampaikan merujuk pada rencana awal pengiriman sampah di Kota Malang yang mulanya bermuara di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang akan beralih ke PSEL Bululawang.
"Untuk pembangunan sendiri kalau toh memang dibangun, itu kemungkinan pada 2028 atau 2029," ucap dia.
Selain mengandalkan PSEL, Pemkot Malang kini fokus mendapatkan bantuan pengelolaan sampah melalui program Local Service Delivery Program atau LSDP.
Dia menyampaikan syarat pemenuhan volume sampah untuk LSDP berkisar di angka 100 ton sampai 150 ton per hari.
"Kalau PSEL itu dari Kementerian Lingkungan Hidup, sedangkan yang LSDP dari Kementerian Dalam Negeri," kata dia.
Ia menyampaikan calon lokasi untuk pelaksanaan program LSDP direncanakan berada di TPA Supit Urang dengan biaya operasional Rp15 miliar per tahun.
"Jadi, biaya operasional itu harus dipastikan dan kemarin Pak Wali dan Ketua DPRD sudah menyetujui apabila itu sudah dibangun, maka harus ada anggaran operasional untuk LSDP tersebut," kata dia.
Pewarta: Ananto PradanaEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.