Cerita Maria, wisudawati tertua peraih "cum laude" di Unusa

id Unusa, wisudawati tertua, maria lidwina endang suwarni

Cerita Maria, wisudawati tertua peraih

Maria Lidwina Endang Suwarni (70) saat diwisuda di Surabaya, Rabu (11/9/2019). (Humas Unusa)

Kalau dari usia memang tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Tapi saya ingin memberi contoh bahwa tidak ada halangan untuk bisa mencapai gelar sarjana
Surabaya (ANTARA) - Maria Lidwina Endang Suwarni (70) menjadi wisudawati tertua yang diluluskan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu dengan predikat cum laude atau lulus dengan predikat dengan pujian.

Lulusan Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) strata satu (S1) yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)  3,57 mengatakan meski telah berusia 70 tahun, dirinya ingin memberi contoh bagi guru-guru PAUD yang masih muda.

"Kalau dari usia memang tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Tapi saya ingin memberi contoh bahwa tidak ada halangan untuk bisa mencapai gelar sarjana," kata Maria.

Menurutnya guru PAUD harus berpendidikan tinggi, sebab selama ini insentif dari Pemerintah Kota Surabaya hanya diperuntukkan bagi mereka yang berusia muda. Bahkan ada yang tidak dapat.

"Saya setiap bulan menerima insentif sebesar Rp50 ribu dari pengelola PAUD di Manukan Kulon, Surabaya," katanya.

Bagi Maria, apa yang telah dicapainya ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Namun tetap harus rendah diri dan tidak boleh sombong. Ia berharap dapat menjadi contoh untuk cucunya yang kini berjumlah lima orang.

"Cucu pertama saya juga akan diwisuda pada November mendatang. Usia dan fasilitas bukan halangan buat saya, apalagi anak-anak mendorong agar saya bisa menyelesaikan kuliah," kata anggota tim Penggerak PKK Kelurahan Manukan.

Maria mengakui, ketiga anaknya berperan penting dalam kuliahnya hingga mendapat gelar sarjana strata satu. Mulai dari membayarkan uang kuliah hingga mengantarkan saat kuliah.

"Beruntung SPP yang kami bayar memperoleh subsidi dari Unusa terkait program Bunda PAUD, jadi kami tidak terlalu berat dalam membayar," ujarnya.

Selama kuliah di Unusa, Maria yang non-muslim merasa diterima dengan baik di kampus Nahdlatul Ulama itu. Apalagi dirinya sudah terbiasa di lingkungan yang berbeda.

"Bagi saya tidak masalah, saya terbiasa berada dalam lingkungan yang berbeda-beda. Saya harus dapat menyesuaikan penampilan kebanyakan warga kampus," ucap Maria.

Setelah lulus, Maria berkomitmen untuk dapat memajukan PAUD di Surabaya sebagai ladang amalnya di dunia

"Saya bersama teman-teman di PAUD lebih menekankan pada kegiatan sosial, membantu sesama. Saya tetap berkomitmen untuk memajukan dan tetap setia di PAUD sebagai ladang amalan di dunia," kata Maria yang juga aktif pada kegiatan sosial di gereja.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar