Siswa dan guru SMPN 28 Surahaya menari remo massal

id Tari remo, surabaya, smpn 28

Siswa dan guru SMPN 28 Surahaya menari remo massal

Siswa dan guru SMPN 28 Surabaya saat menari remo massal, Senin sebagai rasa syukur berdirinya sekolah tersebut. (Istimewa)

Keprihatinan kami budaya dari luar seperti K-Pop, dance yang viral, yang anak-anak SMP sangat bangganya menarikan itu. Sebab itu sejak 2018-2019 anak-anak kita wajibkan untuk bisa nari remo. Hasilnya kita pertunjukkan di masyarakat seperti sekarang ini
Surabaya (ANTARA) - Sebanyak 350 siswa dan guru SMPN 28 Surabaya, Senin menari remo massal sebagai bentuk rasa syukur atas berdirinya sekolah tersebut sejak 33 tahun lalu.

Kepala SMPN 28 Triworo Parnoningrum mengatakan kegiatan tari massal yang dilakukan oleh para siswa, guru, serta karyawan merupakan bentuk keprihatinan atas tari tradisonal yang semakin tergerus oleh zaman.

"Keprihatinan kami budaya dari luar, seperti K-Pop, dance yang viral, yang anak-anak SMP sangat bangganya menarikan itu. Sebab itu sejak 2018-2019 anak-anak kami wajibkan untuk bisa nari remo. Hasilnya kami pertunjukkan di masyarakat seperti sekarang ini," katanya.

Menurut  wanita yang akrab disapa Woro itu tari massal yang diperagakan ini bukan tanpa kendala. Meski masuk dalam ekstrakulikuler, siswa masih canggung untuk tampil di hadapan masyarakat.

"Kesulitan yaitu memahamkan anak-anak bahwa ia sedang unjuk karya menampilkan terbaik," katanya.

Kegiatan tari remo massal yang dilakukan oleh para siswa dan guru, lanjut Woro selain sebagai bentuk rasa syukur berdirinya sekolah juga sebagai bentuk syukur karena pendidikan inklusi di Surabaya mengalami peningkatan kualitas.

Woro mengutarakan, dalam memajukan pendidikan inklusi butuh kerja keras dan sentuhan hangat dari para pendidiknya. Namun semua itu sirna ketika melihat para anak berkebutuhan khusus (ABK) mampu berprestasi dan memiliki kesetaraan dengan siswa-siswa lainnya.

"Kami sangat bersyukur akhir-akhir ini SMPN 28 menjadi rujukan, baik dari pemerintah pusat ataupun daerah-daerah lain yang ingin belajar pendidikan inklusi," kata dia.

Alumnus S3 pascasarjana UNESA ini, menuturkan keberhasilan yang dicapai selama ini, baik di bidang lingkungan, akademik, maupun non akademik tentu tidak akan tercapai tanpa peran aktif siswa, guru, serta karyawan SMPN 28.

"Kesuksesan dan keberhasilan yang diraih selama ini adalah hasil kerja keras semua pihak, oleh sebab itu kami wujudkan melalui kegiatan menari massal bersama," ucapnya.

Sementara itu salah satu ortu siswa Anita yang menyaksikan acara itu menyatakan kebanggan atas kegiatan itu.

"Sekolah itu ya seperti ini. Memberi ruang ekspresi bagi siswanya. Kalau belajar terus ya jenuh. Ini bagus. Saya siap mendukung," ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar