Pemkab Bojonegoro Berencana Gelar Tari Thengul Massal

id Disbudpar Bojonegoro, Tari Thengul, warisan budaya tak benda, objek wisata, antaranews jatim

Pemkab Bojonegoro Berencana Gelar Tari Thengul Massal

Sejumlah penari memperagakan tari Wayang Thengul dalam sebuah acara di Bojonegoro. (Dok. Antarajatim/Slamet Agus Sudarmojo)

Persiapan tari Thengul massal sudah berjalan dengan memilih pelatih yang akan memperoleh pelatihan
Bojonegoro (Antaranews Jatim) - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berencana menggelar Tari Wayang Thengul massal pada 21 Juli 2019 dengan melibatkan sebanyak 2.000 penari untuk mempromosikan tari khas daerah setempat yang masuk warisan budaya bukan benda.

"Persiapan tari Thengul massal sudah berjalan dengan memilih pelatih yang akan memperoleh pelatihan tari. Jumlahnya 107 pelatih," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amir Syahid di Bojonegoro, Rabu.

Ia menjelaskan, sebanyak 107 pelatih tari Thengul yang dipilih itu akan memperoleh pelatihan yang akan diperagakan secara massal dengan jadwal latihan pada Maret.

Selanjutnya, para pelatih yang diambil dari berbagai kecamatan itu, setelah memperoleh pelatihan tari Thengul dengan durasi tujuh menit, akan melatih penari di empat desa.

"Proses rekrutmen penari dilakukan bekerja sama dengan PKK di setiap desa. Proses persiapan tari Thengul massal sekarang ini terus berjalan," ucap Kepala Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Disbudpar Enggar Dyah Rinimukti menambahkan.

Lebih lanjut, Enggar menjelaskan tari Thengul massal daerahnya itu akan masuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), meskipun jumlahnya hanya 2.000 penari, masih kalah dibandingkan dengan tari di Banyuwangi yang jumlahnya lebih banyak.

Kriteria masuk catatan rekor MURI, tidak bergantung dengan jumlah, tetapi keaslian tari Thengul yang akan ditampilkan berbeda dengan tari di Banyuwangi.

"Prinsipnya masuk catatan MURI karena keaslian tari Thengul. Jelas tari Thengul berbeda dengan tari di Banyuwangi," ucap Amir.

Selain tari Thengul massal, lanjut dia, juga dipersiapkan bucu nasi buwuhan daun jati yang akan dimanfaatkan untuk konsumsi para penari.

"Harapan kami makan bersama nasi buwuhan yang merupakan makanan khas daerah kami juga masuk MURI," ucap Amir. (*)
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar