Dander Park Bojonegoro Tempat Istirahat Yang Nyaman

id Geopark Nasional, kayangan api, disbudpar bojonegoro, amir syahid, antaranews jatim

Dander Park Bojonegoro Tempat Istirahat Yang Nyaman

Sejumlah pengunjung di kawasan objek wisata wana wisata Dander Park, di Bojonegoro. (Slamet Agus Sudarmojo.)

Pengunjung bisa nyaman menikmati sejuknya hutan yang masuk Kesatuan Pengkuan Hutan (KPH) Bojonegoro di selatannya.
Bojonegoro (Antaranews Jatim) - Berwisata di Bojonegoro, Jawa Timur, sekaligus beristirahat di tengah-tengah kawasan hutan yang dilengkapi dengan kolam renang bermain anak-anak dan kolam renang dewasa, bisa datang ke wana wisata Dander Park.

Objek wisata yang sudah ada sejak zaman Belanda itu, di wilayah selatan kota hanya berjarak sekitar 15 kilometer, sekarang terus berbenah dengan mengubah pesangrahan di kawasan objek wisata setempat menjadi tempat menginap semacam hotel dengan jumlah 15 kamar.

"Pesangrahan diubah menjadi semacam hotel pada 2018. Sekarang sudah siap ditempati," kata Petugas Wana Wisata Dander Park Bojonegoro Rudianto, dalam perbincangan dengan Antarajatim, Rabu (23/1).

Sesuai rencana, lanjut dia, wisatawan yang datang berkunjung ke objek wisata Dander Park untuk menginap tarifnya tidak sistem kamar, tapi per orang.

"Kalau rencananya tarifnya Rp130.000 per orang/hari ditambah sarapan pagi," ucapnya.

Dengan menginap di tempat menginap yang dinamakan Hostel Dander itu, menurut dia, pengunjung memperoleh fasilitas kolam renang bermain bagi anak-anak, kolam renang dewasa, juga menikmati sangkar burung yang baru dibangun pada 2018.

"Pengunjung bisa nyaman menikmati sejuknya hutan yang masuk Kesatuan Pengkuan Hutan (KPH) Bojonegoro di selatannya," ucapnya.

Hanya saja, ia mengakui kawasan hutan di kawasan objek wisata masih alami belum ada pembenahan. Sebelum ini pernah ada kabar kawasan hutan dengan berbagai macam pohon di daerah setempat akan diubah menjadi kawasan kebun raya semacam Kebun Raya Bogor.

"Ya sejauh ini kami belum tahu perkembangannya karena lokasinya masuk KPH Bojonegoro.  Memang kalau kawasan hutan setempat bisa diubah menjadi kebun raya akan semakin meningkatkan daya tarik wana wisata Dander," katanya menjelaskan.

Meskipun belum sepenuhnya objek wisata setempat tertata, kata Rudianto, objek wana wisata Dander Park, dengan harga karcis masuk Rp10.000/pengunjung, mampu menyedot pengunjung dengan jumlah rata-rata berkisar 800-900 pengunjung setiap libur akhir pekan.

"Sebagian besar pengunjung masih wisatawan domestik (wisdom) lokal, lainnya wisdom luar daerah. Pengunjung pada waktu libur tahun baru 2019 mencapai 7.019 pengunjung. Ya jumlah itu hanya dalam sehari," ucapnya menjelaskan.

Mengenai meningkatnya jumlah pengunjung di wana wisata Dander Park dibenarkan Kepala Disbudpar Bojonegoro Amir Syahid.

Oleh karena itu, kata dia, pemkab menambah wahana di objek wisata setempat dengan sangkar binatang yang tingginya 25 meter, dengan lebar 25 meter, yang rencananya akan diisi dengan binatang langka, seperti burung juga binatang lainnya.

"Kami masih mengkoordinasikan dengan komunitas pecinta burung untuk mengisi sangkar burung yang baru dibangun Termasuk untuk mendorong tumbuhnya kuliner khas yang bisa menarik pengunjung," kata dia.

Bagi siapa saja yang datang datang ke wana wisata Dander Park, cukup strategis, sebab jaraknya tidak jauh dengan objek wisata lainnya seperti objek wisata api abadi Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, yang masuk Geopark Nasional hamparan minyak bumi.

Untuk mencapai Kayangan Api, jarak tempuhnya hanya sekitar 11 kilometer ke arah baratnya juga masuk kawasan hutan jati. Selain itu, wana wisata Dander Park, juga tidak jauh dari Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, dan objek wisata "ngintir" (mengalir di air) di Desa Ngunut, Kecamatan Dander.

Yang jelas, sebagaimana dijelaskan Amir, pemkab telah menyusun Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan 2019-2034, sebagai usaha menata pariwisata di daerah setempat secara menyeluruh untuk menarik wisatawan datang berkunjung.

Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan 2019-2034 hari ini dibahas di DPRD, sebab harus ada payung hukum berupa peraturan daerah (perda) untuk menguatkan.

"Program disbudpar 2019 mempromosikan objek wisata yang ada tidak hanya tingkat nasional, tapi juga ke internasional," kata Sekretaris Disbudpar M. Ridwan menambahkan. (*)

 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar