Dubes: Kisah Ramayana Indonesia Sangat Dinanti di India

id ramayana, sangat dinanti, di india

Dubes: Kisah Ramayana Indonesia Sangat Dinanti di India

Ilustrasi - Parade dalang bocah . Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto/uma/17.

New Delhi (Antara) - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk India Sidharto Suryodipuro mengemukakan kisah Ramayana Indonesia, baik yang diceritakan dalam pentas di Jawa maupun Bali, sangat dinanti oleh masyarakat India.

"Di sini sangat banyak 'demand' terhadap Ramayana Indonesia, banyak sekali yang tanya, mengharapkan Ramayana Indonesia itu bisa tampil, baik yang Jawa maupun Bali," kata Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk India Sidharto Suryodipuro di Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi, Selasa (16/10) malam.

Sidharto mengutip ungkapan peraih nobel bidang sastra dari India Rabindranath Tagore yang pernah mengunjungi Yogyakarta dan Bali pada 1927, mengatakan bahwa dirinya tidak melihat orang India, tapi saya melihat India di mana-mana.

"Dan mungkin masih ada perasaan itu," kata Sidharto.

Dia menjelaskan orang India mengagumi Indonesia yang membuat patung-patung tokoh dalam kisah Mahabharata ataupun Ramayana di beberapa kota, yang mana hal tersebut tidak bisa dijumpai di India sekalipun.

Sidharto menerangkan masyarakat India melihat figur-figur tersebut seperti keadaan yang sangat Hindu. "Kalau kita kan tidak ada kaitannya dengan agama, ini mitologi, mengenai nilai-nilai," kata dia.

Masyarakat India juga sangat kagum dengan digunakannya nama-nama berbau Hindu, seperti Rama dan Shinta yang bahkan menempel pada nama-nama orang beragama Islam.

Menurut Sidharto, India memiliki potensi yang sangat besar dalam mempromosikan Indonesia. Dia menerangkan masyarakat India yang mengunjungi Indonesia pada 2017 mencapai 485 ribu dan diperkirakan akan meningkat menjadi 600 ribu orang pada tahun 2018.

Dia mengatakan KBRI mulai serius dalam menghadirkan film-film Indonesia sebagai salah satu diplomasi budaya dengan merencanakan menghadirkannya lebih banyak di India. Kendati pun negeri yang terkenal dengan Bollywood tersebut memiliki industri perfilman yang sudah mendunia.

"Tapi kita sudah harus masuk dan kita menarget pada mereka kalangan intelektual akademik, kalangan-kalangan yang berminat pada budaya, itu yang disasar," kata Sidharto. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar