Sampah-sampah di Pamekasan itu Membawa Berkah

id KSM Lestari,Pengelolaan Sampang

Sampah-sampah di Pamekasan itu Membawa Berkah

Tempat Pengelolaan Sampah milik KSM Lestari di Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang menjadi Pilot Project Pemprov Jatim. (*)

Pamekasan (Antaranews Jatim) - "Sampah memang bisa membawa bencana jika kita biarkan, akan tetapi juga dapat memberikan berkah kalau diperlakukan dengan semestinya." Hal itu disampaikan Syaifuddin Zuhri, penanggung jawab sebuah Tempat Pengelolaan Sampah Kelompok Swadaya Masyarakat.

Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lestari yang dikelola Syaifuddin Zuhri itu berada di Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan, Pulau Madura, Jawa Timur.

Bersama enam orang pekerja pengelola sampah di TPS yang dikelola dengan sistem 3R (Reduce/mengurangi, Reuse/menggunakan kembali dan Recycle/melakukan daur ulang) itu, ia setiap hari harus bergelut dengan berbagai jenis sampah dari 670-an rumah tangga yang ada di Kota Pamekasan. Mulai dari sampah plastik, organik, anorganik, kaleng dan sampah kompos.

"Sifud" sapaan karib warga Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan, ini terdorong untuk membentuk KSM yang bergerak pada pengelolaan sampah, akibat sering terjadinya banjir di wilayah perkotaan saat kemarau akibat luapan sungai.

Banyaknya sampah rumah tangga masyarakat yang dibuang ke sungai oleh warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai di Kota Pamekasan tersebut menyebabkan aliran air sungai tidak lancar jika turun hujan, hingga pada akhirnya terjadi banjir.

Selama kurun waktu 2010 hingga 2014, tercatat tidak kurang dari tiga kali kejadian banjir melanda warga kota ini setiap tahunnya, seperti di Kelurahan Jungcangcang, Parteker dan Kelurahan Pademawu, serta sebagian di Desa Laden, Kecamatan Kota, Pamekasan.

Sifud dan komunitas masyarakat Jungcangcang lainnya yang memiliki komitmen sama kemudian tergerak untuk menangani sampah-sampah dari masyarakat dan menjadi salah satu penyabab terjadinya banjir di perkotaan itu, dengan membentuk kelompok masyarakat swadaya yang diberi nama "Lestari" dengan Ketua Haji Sugianto, dan Sekretarisnya Abd Syakur. Sedangkan ia selaku bendara sekaligus operator pengelolaan sampah di lapangan.

Keinginan Sifud dan kawan-kawannya untuk mengelola sampah berbasis swadaya seperti gayung bersambut, karena mendapatkan perhatian dari Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Melalui Satker Pembinaan Penyehatan Lingkungan Lingkungan Provinsi Jawa Timur KSM Lestari yang mendapatkan kurusan dana hibah untuk pembangunan lokasi pengelolaan sampah sebesar Rp600 juta, dan tercatat sebagai proyek percontohan terbaik se-Jawa Timur dalam proyek pembangunannya.

TPS3R KSM Lestari ini, dibangun di perkampungan padat penduduk di Jalan Raya Teja, Kelurahan Jungcangcang, dan mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat, karena Sifud dan kawan-kawan mampu mengelola sampah tanpa menimbulkan bau busuk menyengat.

Sifud bersama KSM yang dikelolanya, lalu mempekerjakan enam orang pekerja, yakni tiga orang pekerja laki-laki dan tiga orang pekerja perempuan sebagai pemilah sampah, dan pengangkut sampah dari perkampungan warga ke lokasi tempat pengelolaan sampah.

Sampah-sampah itu kemudian dipilah menjadi lima bagian, yakni sampah plastik, kardus kertas, kaleng, botol dan kompos. Botol, kaleng dan kardus kertas kemudian dijual kepada pengepul, sedangkan kompos diproduksi menjadi pupuk kompos.

Perjuangan Awal
Niat baik Sifud dan para pengurus KSM Lestari lainnya untuk menciptakan lingkungan sehat perkotaan yang bebas banjir, ternyata tidak berlangsung dengan mulus. Biaya operasional dan upah pekerja, menjadi persoalan, disamping kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah secara sembarangan masih belum tercipta dengan baik.

Namun berkat keinginan kuat yang terdorong dari niat ikhlas mengabdi dalam mewujudkan tatanan masyarakat kota yang lestari dan bebas banjir, persoalan-persoalan itu, akhirnya bisa terurai sedikit demi sedikit.

Sifud dan pengurus KSM Lestari lainnya, terus melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat kota, dengan meminta jasa angkut sampah setiap bulan untuk biaya operasional dan honor pekerja, disamping menjual sebagaian sampah masyarakat itu setelah dilakukan pemilahan, dan membuat pupuk kompos dari sampah kompos yang dikumpulkan para pekerja di lapangan.

Selain dari hasil penjualan yang pengelolaan pupuk kompos, sumber pendapatan yang juga membantu KSM Lestari membiayai operasional pengelolaan sampah tersebut adalah retribusi dari masyarakat kota.

Khusus untuk warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai, KSM Lestari memberlakukan tarif berbeda, yakni hanya membayar Rp3 ribu per bulan. Rumah tangga lainnya antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu bergantung jarak.

Tarif jasa angkut sampah untuk warga kota yang tinggal di sepanjang aliran sungai itu diberlakukan, agar mereka tidak membuang sampah ke sungai lagi. Sebab, bagi Sifud, akan menjadi beban moral, jika praktik membuang sampah ke aliran sungai masih terjadi, sedangkan disatu sisi, pemerintah telah membantu membangun TPS sebagai pengelolaan sampah, bahkan TPS tersebut merupakan proyek percontohan se-Jawa Timur.

Dukungan Masyarakat
Perjuangan Sifud dan pengurus KSM Lestari dalam mengelola sampah perkotaan ini, tidak sia-sia, kendatipun awalnya sempat menemui kendala dalam hal biaya operasional pengelolaan sampah.

Sebab, dengan jumlah sekitar 670-an rumah tangga yang menggunakan jasa KSM Lestari tersebut, kelompok swadaya masyarakat ini, akhirnya bisa mengelola sampah dengan efektif, termasuk kebutuhan biaya operasional enam orang pekerja di TPS itu. "Sejak bulan Juli ini, saya juga telah mendapatkan upah Rp300 ribu per bulan, kalau sebelumnya, belum ada sama sekali," tutur Sifud kepada Antara.

Dibanding para pekerja lainnya, upah Sifud memang tergolong lebih murah, meski sebagai koordinator lapangan dan penanggungjawab kegiatan di TPS Lestari itu. Sebab, pekerja lainnya antara Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per bulan, bergantung pada jenis pekerjaannya.

Upah yang diterima Sifud itupun, atas desakan enam pekerja lainnya, setelah keuangan KSM Lestari sudah bisa mencukupi biaya operasional di lapangan. Para pekerja di KSM ini mengetahui kondisi keuangan organisasi, karena sistem manajemen organisasi ini terbuka, dan semua jenis keuangan diketahui oleh semua pihak, baik pekerja, ataupun pengurus KSM Lestari itu.

Pola pengelolaan ini pula yang menyebabkan dukungan masyarakat terus meningkat, termasuk elemen institusi lain yang ada di wilayah itu. Bahkan, setiap bulan, KSM Lestari melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis, dengan cara bekerja sama dengan puskesmas terdekat di wilayah itu.

"Ini yang menyebabkan kami mendukung, keberadaan KSM Lestari sebagai pengelola sampah disini. Selain pengelolaannya secara profesional, juga bertanggung jawab dengan kesehatan masyarakat yang ada disini," kata warga yang tinggal sekitar 10 meter dari lokasi pengelolaan sampah KSM Lestari itu, Fathor Arif.

Percontohan Pemkab Pamekasan
Keberhasilan KSM Lestari di Kelurahan Jungcangcang,Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan dalam hal pengelolaan sampah dan penataan lingkungan yang sehat ini, sering dijadikan contoh oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Pamekasan apabila ada penilaian kebersihan lingkungan seperti penilaian Adipura.

Sebab, selain pola pengelolaan yang bagus dan mendapat dukungan dari masyarakat sekitar, juga dilakukan secara mandiri dalam hal keuangan kelompok.

Menurut Sekrataris Daerah (Sekda) Pemkab Pamekasan Moh Alwi, keberhasilan KSM Lestari dalam mengkomunikasikan program baik dengan pola komunkasi yang baik dengan masyarakat, berdampak pada terwujudkan kekuatan sistemik yang baik di masyarakat.

Sebab, sambung dia, gagasan dan program yang baik, akan tetapi tidak bisa dikomunikasi dengan baik, maka hasilnya juga tidak baik, bahkan ditolak oleh masyarakat.

Sedangkan, yang dilakukan KSM Lestari dalam hal pengelolaan sampah, adalah mampu mewujudkan gagasan baik mereka dalam bentuk aksi nyata, sehingga menjadi kesadaran kolektif di masyarakat perkotaan di Pamekasan.

Yang juga patut menjadi contoh, karena KSM ini mampu berproses dengan baik, sehingga komitmen sosial yang selama ini diperjuangkan, berbauh pada hasil yang baik, bahkan mampu menyerap tenaga kerja dari sisi pengelolaan sampah, kendatipun masih belum sesuai dengan standar pengopahan. "Tapi, saya kira itu yang perlu diteladani," kata Alwi. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar