Tulungagung (Antara Jatim) – Sejumlah sesepuh desa atau tokoh adat yang memiliki keahlian merawat benda pusaka yang disebut "pewarang" di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, membuka jasa layanan memandikan keris ataupun benda yang diyakini memiliki tuah lainnya, selama bulan Suro (Muharam). Seperti diungkapkan Widodo, salah satu tokoh adat Desa Bendilwungu, Kecamatan Sumbergempol, Sabtu, yang menyebut saat ini telah menerima permintaan memandikan pusaka keris dan tombak sebanyak 135 bilah. "Hari pertama Suro ini saja saya sudah menerima pesanan memandikan 50-an bilah keris. Biasanya permintaan akan terus bertambah," tutur Widodo. Kesibukan serupa juga disampaikan pewarang lain yang akrab disapa Empu Uji, warga Desa Sambijajar, Kecamatan Sumbergempol yang mengaku bisa melakukan ritual memandikan pusaka sebanyak 20-30 bilah per harinya. Tidak hanya melayani di rumah, kedua pewarang yang mengaku memiliki garis keturunan dengan empu pembuat keris atau aneka senjata benda pada zaman Kerajaan Mataram dan Majapahit ini juga memberikan servis dengan mendatangi kediaman pelanggannya. "Karena rata-rata pemilik atau kolektor ini tidak ingin benda pusakanya dibawa keluar rumah. Jadi kami harus jemput bola," kata Empu Uji. Di Kabupaten Tulungagung, jumlah penggemar keris ataupun benda pusaka diperkirakan berjumlah ratusan. Namun, lanjut Empu Uji, tidak semua dari kolektor ini memiliki kemampuan memandikan benda pusaka tersebut, sehingga memilih menyerahkan kepada ahlinya yang dianggap memiliki kapasitas memandikan barang-barang keramat tersebut. "Tidak banyak yang membuka jasa layanan seperti kami, karena memang butuh keahlian khusus serta mampu melakoni ritual sebelum melakukan kegiatan jamasan (memandikan) pusaka," tutur Widodo. Ia menuturkan, proses jamasan saat ini sudah menggunakan bahan detergen, karena bahan alami seperti klerak, buah pace dan bentis sulit didapatkan. "Asal ada bahan jeruk nipis sebagai campuran (menggunakan detergen) tidak masalah" ujarnya. Empu Uji menceritakan, prosesi jamanan dimulai dengan terlebih menyiapkan baskom atau bambu yang akan di gunakan untuk merendam bilah keris.Tempat rendaman di isi dengan air kelapa secukupnya sehingga nantinya bilah dapat terendam sempurna. Setelah itu, lanjut dia, bilah keris dilepaskan dari genggaman kayunya sebelum kemudian dimasukkan kedalam tempat rendaman hingga semua bagian terendam air kelapa. "Bilah terendam minimal sehari semalam dan semakin lama semakin bagus karena sebetulnya yang di butuhkan adalah air kelapa,pace,daun nanas" jelasnya. (*)
Berita Terkait
Tombak Kiai Upas diusulkan jadi cagar budaya Kabupaten Tulungagung
11 Juli 2025 19:34
Tradisi jamasan tombak pusaka Kiai Upas
11 Juli 2025 15:29
Warga Lamongan gelar jamasan pusaka Keris Korowelang
6 Juni 2025 11:55
Ritual jamasan pusaka Bung Karno
27 Juli 2024 05:04
Hari Jadi ke-829, Pemkab Trenggalek gelar ritual jamasan tujuh pusaka daerah
30 Agustus 2023 22:05
Ritual jamasan pusaka Kiai Upas kembali digelar di Rumah Kanjengan Kepatihan
28 Juli 2023 21:59
Malam satu Suro, Pemkab Ponorogo gelar kirab dan jamasan empat pusaka daerah
18 Juli 2023 21:03
Ritual jamasan tombak pusaka Kiai Upas kembali digelar di Tulungagung
12 Agustus 2022 23:00
