Surabaya (ANTARA) - Pengurus Provinsi (Pengprov) Esports Indonesia (ESI) Jawa Timur menilai rencana Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar Turnamen Esports Desa menjadi momentum untuk mempercepat penjaringan bakat potensial di pelosok daerah.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) ESI Jatim Hardian Bayu mengungkapkan program yang digalakkan oleh kementerian tersebut sangat berarti bagi perkembangan ekosistem olahraga elektronik di tingkat akar rumput.
"Objektifnya adalah para gamer Jawa Timur ini dapat meningkatkan kapasitas mereka dengan bertanding di luar lingkup biasanya," kata Hardian saat dihubungi ANTARA melalui telepon di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.
Menurut dia, kompetisi berskala nasional yang menjangkau hingga ke tingkat desa akan menjadi jembatan bagi para pemain gim daerah untuk bertransformasi menjadi atlet profesional yang berprestasi.
Hal tersebut, kata dia, tentunya dapat dilakukan sebagai persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 untuk memupuk mental sehingga meraih prestasi.
"Justru dengan adanya kompetisi tersebut, itu juga bisa mengangkat motivasi para gamer lainnya, menjadi contoh serta pelecut semangat bagi mereka," ucapnya.
Lebih lanjut, Hardian menjelaskan bahwa selama ini potensi esports di Jawa Timur sudah mulai tumbuh secara mandiri di wilayah-wilayah kecil seperti Trenggalek, Pacitan, hingga kawasan Tapal Kuda melalui berbagai kompetisi amatir.
Oleh karena itu, kehadiran intervensi program dari pemerintah pusat seperti Kemendes PDTT diyakini akan memberikan pengakuan resmi serta meningkatkan rasa percaya diri para pemain lokal untuk muncul ke permukaan.
"Ini adalah olahraga yang bersifat ketangkasan, sehingga kita juga harus bisa memberikan rasa confidence atau percaya diri kepada mereka untuk bisa masuk ke area kompetitif," tuturnya.
Sebelumnya, kata Hardian, mungkin para pemain gim ini hanya main bareng (mabar) dengan teman lingkungannya saja dan sangat jarang mengikuti kompetisi atau turnamen dengan skala besar.
Sebab itu, Hardian menekankan bahwa ESI Jatim berkomitmen untuk memantau bakat-bakat menonjol dari turnamen tersebut guna dipersiapkan sebagai atlet masa depan Jawa Timur.
"Fokus kami adalah pada aturan keatletan kami sendiri, yaitu mereka harus ber-KTP Jawa Timur. Jika memang ditemukan talenta yang berprestasi melalui program kementerian tersebut, kami akan mencoba mengakomodasi mereka ke ranah yang lebih tinggi lagi," ujarnya.
Mengenai kesiapan infrastruktur pendukung, Hardian menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki portofolio yang kuat dalam menyelenggarakan ajang besar, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menyebutkan, Kota Batu sebagai salah satu wilayah yang memiliki kesiapan sarana dan prasarana paling matang untuk mendukung kegiatan esports di luar kota besar seperti Surabaya.
"Jika kita diminta atau dipilih sebagai venue oleh kementerian, tentu kita sangat siap. Jawa Timur sudah banyak portofolio event internasional yang pernah dikerjakan. Kota Batu, misalnya, sangat siap dari sisi sarana prasarana serta dukungan penuh dari pemerintah daerahnya," ujar Hardian.
