Oleh Edy M Ya'kub
"Rasanya, perjuangan kami selama ini terbayar oleh kesediaan mereka kembali bersekolah," ucap Asmawiyanto, koordinator 'Campus Social Responsibility' (CSR) Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya.
Itulah ungkapan Asmawiyanto ketika ditanya Antara tentang kesulitannya bersama 24 rekannya dalam melakukan pendampingan selama tiga bulan bagi 25 anak jalanan untuk mau kembali ke sekolah.
"Ada 25 anak jalanan yang didampingi oleh 25 mahasiswa dan 14 orang di antaranya akhirnya mau kembali ke sekolah," tutur Asmawiyanto di sela-sela penyerahan bantuan tabungan dari BNI kepada 25 anak jalanan yang dibina CSR Unitomo dalam rangka wisuda 237 lulusan kampus itu, Sabtu (29/3).
Untuk membina 11 anak jalanan lagi yang belum bersekolah, ia mengaku lima orang di antaranya yang terpaksa bekerja akan diarahkan ikut kejar paket C. "Mereka sudah mau, kok, kami tinggal menunggu tahun ajaran baru," paparnya.
Namun, bagi enam anak jalanan yang tersisa, Asmawiyanto dan rekan-rekannya angkat tangan, karena mereka tinggal di luar Kota Surabaya, di antaranya di Sidoarjo.
"Terus terang melakukan pendampingan anak jalanan itu tidak mudah, karena mereka lebih banyak di jalanan. Saya bahkan pernah menunggu anak jalanan pulang ke rumahnya sampai selama dua hari," tukasnya.
Namun, ia merasa bangga dengan adanya 14 anak jalanan yang mau bersekolah lagi. "Karena itu, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan BNI untuk program CSR Unitomo itu, karena mereka akan merasa diperhatikan orang lain untuk bersekolah lagi," timpalnya.
Baginya, uang tabungan BNI senilai Rp100 ribu bukan soal nilai uangnya, tapi yang terpenting adalah apa yang diberikan itu merupakan motivasi bagi mereka. Bantuan tersebut menjadi semacam bentuk perhatian bagi mereka agar lebih bersemangat untuk kembali bersekolah.
Para mahasiswa relawan bagi anak-anak jalanan itu agaknya pantas berbangga, karena anak jalanan yang didampingi akhirnya mau bersekolah, seperti Rosid dari kampung Wonososari Kidul, Surabaya Utara.
"Selama ini, saya menjaga warnet dan sekarang sudah merasa capek. Karena itu saya mau sekolah lagi. Saya pernah sekolah hingga kelas 2 SD," ucapnya.
Apalagi, ujar Rosid yang kelihatan seperti sudah usia SMP itu, kakak-kakak mahasiswa juga telah minta restu kepada bapaknya. "Saya mau sekolah lagi, karena bapak sudah mengizinkan," ungkapnya.
Senada dengan itu, Zaskia Vista Permadani yang juga putus sekolah dasar (SD) di kawasan DKA Tegal, Kelurahan Sawunggaling, Surabaya, mengaku dirinya suka mengamen di sebuah mal karena ikut orang tuanya yang bekerja sebagai pengamen.
"Saya sering mengamen di mal. Saya ikut ibu (mengamen)," kata siswi kelas 1 SD itu, didampingi kakaknya Alfian Yudha Pamungkas yang juga mengamen serta mahasiswi pendamping Puji Rahayu dari Jurusan Bahasa Indonesia Unitomo Surabaya.
Menurut Puji Rahayu, kedua kakak-beradik itu hampir putus sekolah, karena kebiasaan mengamen membuat mereka tidak fokus dalam pelajaran serta sering mengantuk di kelas.
"Bahkan, kakaknya yang kelas 4 SD itu juga trauma dengan Satpol PP, karena sering diciduk saat mengamen hingga dibawa ke kelurahan dan kecamatan," ungkap mahasiswi yang bertekad mendampingi 'anak asuhnya' sampai benar-benar fokus ke sekolah.
Model KKN Mandiri
Anak-anak jalanan putus sekolah yang didampingi mahasiswa Unitomo itu umumnya berasal dari 11 "kawasan miskin" di Surabaya, di antaranya Kelurahan Tambak Osowilangun, Romokalisari, Sememi, dan Sawunggaling. Di wilayah ini masih banyak anak putus sekolah dasar, SMP maupun SMA.
Langkah para mahasiswa dari UKM CSR Unitomo itu mendapat respons positif dari Rektor Unitomo Dr Bachrul Amiq SH. Apa yang dilakukan para mahasiswa dari UKM CSR itu, bahkan diharapkan bisa menjadi model KKN Unitomo.
"Kalau sukses akan kami jadikan model KKN Unitomo daripada KKN yang selama ini hanya bersifat fisik dan jauh dari kepentingan warga kota ini. Jadi, itu merupakan langkah awal untuk uji coba KKN mandiri selama setahun," tandasnya.
Dalam pengarahannya saat bertemu para mahasiswa UKM CSR Unitomo itu, katanya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Unitomo terhadap program "CSR" di Kota Surabaya.
"Saya menyampaikan terima kasih mau membantu kami dalam menangani program pemerintah, yakni kampus peduli masalah sosial. Saya lebih bangga lagi, karena sebagian dari mereka mau bersekolah lagi," kata Rektor Unitomo, mengutip pernyataan Risma.
Rencananya, Pemkot Surabaya akan bekerja sama dengan 27 universitas untuk "menyadarkan" 300-an anak putus sekolah yang tersebar di 11 kecamatan setempat.
"Tapi, Unitomo akan mendorong kerja sama ini dalam kegiatan yang setara dengan KKN. Jadi para mahasiswa yang melakukan pendampingan tidak perlu KKN lagi, bahkan kalau sukses akan kami jadikan model KKN Unitomo," katanya.
Selama setahun, katanya, para mahasiswa akan mendalami masalah yang dihadapi oleh anak-anak jalanan atau anak putus sekolah itu, lalu merumuskan pola pendampingan dan motivasi yang tepat. Semuanya dilaporkan kepada LPPM Unitomo dalam tiga bulan sekali.
"Kami serius dengan KKN mandiri itu. Karenanya kami mengerahkan dua pembimbing bagi 25 mahasiswa itu yakni seorang dosen kewirausahaan dan dosen dari LPPM, sehingga Unitomo akan mencetak mahasiswa peduli anak-anak termarjinalkan," katanya.
Respons positif terhadap tindakan para mahasiswa juga datang dari Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Soepomo.
"Program pendampingan mahasiswa untuk kelompok penyandang masalah sosial itu sejalan dengan program Pemkot Surabaya yakni kampus peduli sosial," paparnya.
Oleh karena itu, pihaknya akan menyiapkan dukungan data dan juga anggaran untuk pakaian, tas sekolah, sepatu, dan kelengkapan sekolah lainnya bagi ratusan anak jalanan dan anak putus sekolah tersebut.
"Bagi kami pendampingan itu perlu, karena Pemkot Surabaya sudah membebaskan biaya sekolah, tapi masih ada saja anak yang putus sekolah," tukasnya.
Pendampingan merupakan solusi untuk mengembalikan anak-anak jalanan itu ke sekolah, sebab mereka sudah terbiasa dengan kehidupan liar di luar kelas.
"Jadi, apa yang dilakukan para mahasiswa Unitomo itu bisa menjadi ikhtiar agar anak-anak jalanan yang pikirannya sudah terpecah itu menjadi fokus ke sekolah lagi," tegasnya. (*)
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026