Banyuwangi (Antara Jatim) - Setiap daerah tentu memiliki budaya dan destinasi wisata yang menjadi ikon untuk dipromosikan ke daerah lain baik di tingkat nasional maupun mancanegara, sehingga diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan ke daerah setempat. Banyak cara yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan pariwisata dan mengenalkan budaya atau adat istiadat yang menjadi ciri khas daerah setempat dengan mengemasnya menjadi sebuah rangkaian acara menarik nan-apik. Tengok saja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang selama tahun 2013 gentol mempromosikan wisata di daerahnya. Dalam tahun ini, menggelar Banyuwangi Festival 2013 selama empat bulan berturut-turut sejak September hingga Desember dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-242 kabupaten paling timur di Pulau Jawa tersebut. Beragam acara digelar mulai "Banyuwangi Ethno Carnival", "Banyuwangi Batik Festival", "Banyuwangi Tour de Ijen", "Banyuwangi Open Yunior", Festival Anak Yatim, Pagelaran Wayang Kulit, "Banyuwangi Beach Jazz Festival", Festival Paju Gandrung Sewu, "Internasional Powercross", "Banyuwangi Expo" dan Festival Kuliner, serta Festival Kuwung. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan rangkaian acara dalam Banyuwangi Festival mampu menjadikan kekayaan seni-budaya sebagai sarana untuk memacu sektor pariwisata, sekaligus mendongkrak kegiatan ekonomi. "Berbagai even wisata yang dikemas secara kreatif dalam Banyuwangi Festival 2013 berdampak pada peningkatan pendapatan daerah/komunitas lokal, peningkatan potensi daerah, dan memperluas destinasi kehidupan masyarakat setempat," tuturnya. Menurut dia, kegiatan festival yang digelar setiap tahun dalam rangka menyambut Hari Jadi Banyuwangi itu diproyeksikan sebagai sarana publikasi dan memperkenalkan kabupaten "Bumi Balmbangan" tersebut di kancah nasional, regional, maupun internasional. "Melalui sejumlah even Banyuwangi Festival diharapkan lebih mampu membangkitkan perhatian dan menjadi jendela dunia bagi kabupaten setempat," ucap mantan anggota DPR RI itu. Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) merupakan kegiatan pembuka dalam Banyuwangi Festival 2013 yang digelar 7 September 2013 dengan mengusung tema "The Legend of Kebo-Keboan" yang merupakan salah satu upacara adat warga Desa Aliyan di Kecamatan Rogojampi, dan Desa Alasmalang di Kecamatan Singojuruh. Sebanyak 150 peserta berlenggak-lenggok di atas "catwalk" Taman Blambangan dengan menampilan tiga defile yakni 'Kebo Geni' yang menggunakan kostum etnik kebo-keboan didominasi warna merah dan hitam, defile 'Kebo Bayu Tirto' dengan balutan kostum berwarna biru dan silver, kemudian defile ketiga 'Kebo Bumi' dengan dominasi warna hitam dan kuning emas. "Kebo-keboan memiliki filosofi yang tinggi akan sejarah Banyuwangi, kebo atau kerbau menjadi mitra petani saat menggarap sawah, sehingga kebo memiliki kedekatan dengan kemakmuran rakyat," ucap bupati yang akrab disapa Kang Anas itu. Selain memamerkan budaya khas Bumi Blambangan melalui BEC dan Festival Kuwung, Banyuwangi Festival juga memamerkan destinasi wisata baru yakni Pulau Merah melalui kegiatan lomba balap sepeda internasional "Banyuwangi Tour de Ijen" yang diikuti oleh tim domestik dan mancanegara pada 2 November 2013. Even balap sepeda tersebut dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo dan disaksikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Edmound JT Simorangkir, perwakilan Persatuan Balap Sepeda Internasional Jamaluddin Mahmood. Menpora Roy Suryo mengaku sangat bangga dengan Pemkab Banyuwangi yang mampu mengelola potensi alamnya melalui sebuah kegiatan besar yang dibiayai secara mandiri seperti Tour de Ijen. "Saya bangga olahraga balap sepeda kian mendapat tempat di masyarakat Banyuwangi, terutama dipadukan dengan wisata atau 'sport tourism'," kata Roy saat membuka lomba balap sepeda Banyuwangi Tour de Ijen beberapa waktu lalu. Para peserta lomba balap sepeda harus melalui rute sepanjang 606,5 kilometer melintasi kawasan perkotaan, pantai, perkebunan, hingga finish di Kawah Gunung Ijen yang memiliki pemandangan eksotik. Selain mempromosikan budaya dan wisata, festival yang digelar selama empat bulan tersebut juga menyuguhkan festival kuliner yang menjajakan makanan khas warga Using seperti rujak soto dan nasi tempong, serta tidak ketinggalan mempromosikan berbagai motif batik khas kabupaten setempat melalui Banyuwangi Batik Festival. Dalam festival batik tersebut, juga digelar lomba desain motif batik yang diikuti oleh pelajar dan umum, sehingga menambah kekayaan motif batik khas Banyuwangi yang paling dikenal yakni batik "Gajah Uling" itu. Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi M.Y Bramuda mengatakan beragam kegiatan yang mempromosikan budaya dan wisata dikemas secara kreatif dan menarik dalam Banyuwangi Festival, tanpa meninggalkan esensi budaya yang asli. "Keaslian Banyuwangi baik dari sisi seni, budaya, dan berbagai potensi wisata ditampilkan dengan kemasan yang kreatif, bahkan penggalan kisah sejarah Bumi Blambangan, serta potensi daerah baik industri maupun kekayaan wisata juga ditampilkan dalam Festival Kuwung," tuturnya. Ia optimistis beragam kegiatan yang diselenggarakan dalam Banyuwangi Festival dapat meningkatkan kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun domestik karena banyak wisatawan yang datang ke sejumlah objek wisata setelah berbagai even festival digelar. Konsistensi kabupaten berjuluk "The Sunrise of Java" tersebut dalam mengembangkan pariwisata berbuah manis karena tahun ini menyabet gelar "Travel Club Tourism Award 2013" untuk kategori "The Most Creative" dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Banyuwangi dinilai sebagai kabupaten yang mampu mengemas pengembangan pariwisata dengan kreatif dibandingkan daerah lain, sehingga layak mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 20 Desember 2013. Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pariwisata merupakan sektor yang bisa dengan cepat menciptakan perputaran ekonomi di masyarakat, dan apabila dioptimalkan, maka pariwisata di Bumi Blambangan itu akan memberi banyak dampak positif kepada masyarakat setempat. "Seni budaya Banyuwangi ikut terkerek oleh laju kemajuan pariwisata dan ekonomi, sehingga semakin go internasional, namun punya akar budaya yang tetap membumi," ujarnya. Kunjungan Wisatawan Meningkat Tdak hanya Pemkab Banyuwangi yang menggelar beragam acara untuk meningkatkan kunjungan wisata, Pemkab Jember pun juga memiliki agenda tahunan yang dikemas dalam kegiatan "Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ)" dan Festival Egrang. Beberapa kegiatan BBJ yang dikemas dalam "Jember Multi Even 2013" antara lain Kompetisi Marching Band Internasional, Manaqib Qubro dan Seni Budaya, The Adventure Trail, Koong Perkutut, Jember Open Road Race, Festival Kuliner, Kejurnas Drag Bike, dan kegiatan yang sudah mendunia yakni Jember Fashion Carnival (JFC). Kabag Humas Pemkab Jember, Sandi Suwardi Hasan, mengatakan kegiatan BBJ merupakan salah satu cara untuk membangun citra dan mempromosikan Jember ke masyarakat luas, bahkan kancah internasional. "BBJ dikemas dengan spektakuler seperti kegiatan Jember Fashion Carnaval yang mampu menghipnotis dunia, sehingga kunjungan wisatawan mancanegara ke Jember meningkat selama kegiatan JFC tersebut," tuturnya. Bahkan, hunian hotel penuh saat digelanya karnaval dengan "catwalk" sepanjang 3,6 kilometer dari alun-alun kota Jember menuju ke Gedung Olahraga (GOR) Kaliwates Jember dengan peserta yang menggunakan busana nan unik dan spektakuler itu. Presiden JFC, Dynand Fariz, mengatakan JFC yang digelar tahun 2013 bertema "Artechsion (Art meet Technology and Illusion)" mengekspresikan kekayaan budaya nusantara dan internasional melalui penciptaan sebuah maha karya busana yang unik dan spektakuler oleh masing-masing peserta. "JFC merupakan karnaval terbaik Indonesia yang menduduki peringkat keempat untuk karnaval terunik dan terheboh di dunia, setelah Mardi Grass di Amerika Serikat, Rio De Janeiro Brazil, dan The Fastnacht di Jerman," tuturnya. Rangkaian kegiatan JFC XII diselenggarakan 20-25 Agustus 2013 yang dikemas dalam "JFC International Event 2013" yang dimulai dengan Panting Exhibition, Photo Exhibition, Kuliner, JFC Kids, Artwear, dan puncaknya Grand Carnival. Acara yang menyedot perhatian masyarakat luas itu diabadikan oleh sekitar 2.404 fotografer dari berbagai media dan pecinta fotografi lokal, nasional dan internasional. "Peserta JFC juga sering tampil sebagai undangan di berbagai even nasional dan internasional, sehingga Kabupaten Jember semakin dikenal oleh dunia," tuturnya. Tidak hanya JFC yang menyedot perhatian publik, kegiatan Festival Egrang yang digelar komunitas "Tanoker" di Kecamatan Ledokombo menjadi daya tarik bagi wisatawan asing untuk datang ke kabupaten setempat. Tamu yang hadir untuk menyaksikan Festival Egrang juga dari warga negara asing seperti Australia, Madagaskar, Belanda, Senegal, dan Thailand. Beberapa juri yang akan memberikan penilaian terhadap lomba gerak jalan dengan menggunakan egrang dalam Festival Egrang IV juga berasal dari luar negeri yakni Gill Westaway (Australia), Max Boon (Belanda), dan Amadou Diawara (Senegal). "Festival Egrang yang digelar setiap tahun di Kecamatan Ledokombo sebagai upaya promosi permainan tradisional Indonesia ke dunia internasional karena dalam festival itu juga hadir tamu-tamu mancanegara," kata Koordinator Tanoker Jember, Farha Ciciek. Menurut dia, gerak jalan egrang merupakan salah satu permainan tradisional anak-anak Nusantara yang terancam punah, sehingga Tanoker bersama warga Kecamatan Ledokombo-Jember berusaha melestarikan permainan tradisional tersebut. "Permainan tradisional yang terlupakan itu dapat dikemas menjadi permainan dengan atraksi yang unik, sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang belum mengenal tentang egrang," tuturnya. Banyaknya festival yang diselenggarakan oleh berbagai daerah diyakini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun domestik dan banyaknya event berupa festival itu menambah promosi untuk daerah, bahkan diyakini mampu menggairahkan ekonomi lokal. Selain itu, beragam festival kesenian dan budaya yang digelar di Kabupaten Banyuwangi dan Jember juga menjadi salah satu upaya pemerintah daerah setempat untuk melestarikan warisan nenek moyang yang terancam punah.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026