Selain terkenal dengan Kawah Ijen dan sebagai penghasil tapai, Kabupaten Bondowoso juga memiliki kekayaan budaya yang khas dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Di kabupaten yang berbatasan dentan Jember, Banyuwangi dan Siutbondo ini terdapat ratusan batu kuno peninggalan prasejarah. Batu-batu dalam berbagai bentuk dan ukuran itu tersebar di dua kecamatan, yakni Grujugan dan Maesan. Koleksi paling banyak berada di Grujugan, khususnya di Desa Pekauman. Di Grujugan ada sekitar 460-an, dan 200 di antaranya ada di Pekauman. Desa lain di Grujugan yang memiliki batu kuno itu adalah Wanisodo, Taman dan Tegal Mijin. Sementara di Maesan tersebar di Desa Gunungsari, Sumber Anyar, Sumbersari dan Suger. Salah satu juru pelihara situs tersebut, Amsari, menyebutkan bahwa batu-batu itu terdiri dari berbagai bentuk dan kegunaan, yakni sarkofagus, batu kenong, dolmin, arca, kuburan, batu lumpang dan dakon. Sarkofagus digunakan untuk tempat mayat atau mirip dengan batu kubur, batu kenong dan lumpang untuk fondasi sudut rumah, dakon untuk tempat duduk dan dolmin sebagai meja. Perbedaan batu kenong dan lumpang terletak pada bagian atas. Batu kenong bagian atasnya menonjol sedangkan lumpang justru berlubang. Tonjolan dan lubang itu fungsinya untuk meletakkan tiang rumah. Untuk batu kubur ukurannya cukup besar dan karena bentuknya mirip mobil sedan, masyarakat setempat menyebut "batoh motor". Batoh, dalam Bahasa Madura artinya batu dan motor artinya mobil. Selain untuk menyimpan mayat, batu-batu itu ternyata digunakan juga untuk menyimpan benda-benda berharga. Namun, barang berharga semaca gerabah yang diduga milik masyarakat sesudah prasejarah itu sudah hilang dicuri orang dengan cara digali. Sementara salah satu arca, yang oleh penduduk setempat disebut "Batu Nyai" karena berbentuk perempuan juga sudah rusak. Bagian pantat dan kedua tangannya sudah hilang bekas dipahat. Amsari yang lulusan sebuah madrasah aliyah di Prenduan, Sumenep, Madura, ini mengakui bahwa tidak mudah merawat batu-batu itu karena lokasinya yang berpencar-pencar. Batu-batu itu umumnya ada di lahan pertanian penduduk. Suatu ketika empat batu kenong di Maesan hilang, namun berkat upaya kepolisian akhirnya keberadaannya ditemukan kembali. Karena pemerintah tidak memiliki biaya untuk membeli semua lahan tempat persebaran batu-batu itu, maka Amsari dan para juru pelihara lainnya harus pandai-pandai melakukan pendekatan kepada pemilik tanah yang ada batu kunonya itu. Amsari dan kawan-kawan harus menyisihkan sebagian gajinya sebagai pagawai negeri sipil kepurbakalaan untuk pemeliharaan, termasuk pembersihan. Sebagai tujuan wisata pendidikan, kata Amsari, pihaknya harus hati-hati ketika menerima rombongan siswa dalam jumlah banyak. Apalagi jika mereka datang saat musim hujan. Tidak jarang, pengunjung, khususnya anak-anak pelajar yang menginjak tanaman petani di lokasi batu. Kadangkala Amsari meminta para siswa yang ingin melihat batu di persawahan itu dengan sistem perwakilan saja. "Kan tidak enak sama yang punya lahan kalau tanamannya rusak. Namanya anak-anak sekolah kan belum mikir jauh kalau merusak tanaman. Ya, kami harus sabar memang," tutur ayah dua anak ini. Selain dari Bondowoso sendiri, lokasi itu juga didatangi masyarakat, pelajar dan mahasiswa dari Banyuwangi, Situbondo, Jember dan Probolinggo. Sejumlah turis asing juga pernah datang ke lokasi itu. Menurut Amsari, batu-batu itu ditemukan pertama kali tahun 1923 oleh orang Belanda William Erick. Bahkan, istri Erick pernah datang ke lokasi itu. Grujugan dan Maesan terletak sebelah selatan Kota Bondowoso. Wilayah itu berjarak sekitar 10 Km dari pusat Kota Bondowoso. Maesan dan Grujugan merupakan perlintasan jalur dari Bondowoso ke arah Jember dan sebaliknya. Karenanya untuk menuju ke lokasi itu tidak sulit meskipun harus menggunakan angkutan umum. (*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026