Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Jawa Timur melakukan deteksi dini kondisi kesehatan masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien tuberkulosis (TBC) melalui program skrining TBC dengan Mobile X-Ray, Rabu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Malang Meifta Eti Winindar di Kota Malang, menyatakan pemeriksaan kondisi kesehatan kepada masyarakat dilakukan untuk mempercepat proses pelacakan dan penanganan pasien TBC baru.
"Kami melaksanakan deteksi dini, skriningnya dilakukan kepada kontak erat dan yang eligible (memenuhi syarat mendapatkan penanganan), di antaranya pasien diabetes melitus, anak berusia lebih dari tiga tahun dalam kondisi gizi buruk, hingga warga yang tinggal satu rumah dengan pasien tuberkulosis," kata Meifta.
Deteksi dini TBC diselenggarakan setiap Senin hingga Jumat dan secara bergantian menyasar kelurahan di lima wilayah kecamatan se-Kota Malang.
Untuk hari ini, program tersebut diselenggarakan di wilayah Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Dinkes Kota Malang menargetkan per harinya deteksi dini kesehatan berupa foto rontgen thoraks mampu menjangkau 200 orang.
Melalui upaya tersebut nantinya masyarakat yang terdeteksi TBC bisa secepatnya menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Langkah dari Dinkes menjadi bagian mencegah pertumbuhan kasus TBC di Kota Malang.
Sejak Januari hingga Mei 2026, di daerah tersebut tercatat 925 orang dinyatakan positif tuberkulosis dengan rentang usia mulai dari balita hingga lansia.
"Mulai April sampai akhir Mei 2026, kami sudah melakukan kegiatan ini di 28 kelurahan dan menemukan ada 27 orang yang positif," ujar dia.
Ia menyampaikan pengobatan kepada pasien TBC umumnya berjalan hingga enam bulan, tetapi apabila penderita penyakit itu memiliki kondisi tertentu, seperti resisten terhadap obat, prosesnya bisa berjalan lebih lama.
"Tentu saja ada pertimbangan kondisi pasien, yang jelas lebih dari enam bulan," ujar dia.
Dinkes Kota Malang menyampaikan gejala umum seseorang terjangkit TBC, di antaranya keringat dingin pada malam hari, mengalami batuk berkelanjutan selama dua pekan atau lebih, hingga penurunan berat badan drastis.
Sebagai pencegahan penularan maupun tertular TBC, instansi terkait mengimbau agar masyarakat senantiasa menggunakan masker, mematuhi etika batuk, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta orang tua perlu disiplin mengikutsertakan anak dalam program imunisasi.
Pewarta: Ananto PradanaEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026