Sidoarjo (ANTARA) - Legislator Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono meminta mitigasi maksimal dilakukan di kawasan Lumpur Sidoarjo, Jawa Timur, sebagai upaya antisipasi potensi bencana yang masih bisa terjadi di lokasi tersebut.
"Selain berpotensi menimbulkan dampak, kondisi ini juga menyimpan risiko besar terhadap keselamatan masyarakat dan infrastruktur di sekitarnya," kata Bambang saat melakukan peninjauan di semburan lumpur Sidoarjo, Rabu.
Ia mengatakan, kawasan lumpur Sidoarjo hingga kini masih berstatus bencana dan tidak layak dijadikan destinasi wisata menyusul adanya dua sesar aktif, yakni Sesar Siring dan Sesar Watu Kosek, yang berpotensi bergerak sewaktu-waktu dan memicu dampak fatal.
“Ini masih bencana, bukan untuk hiburan. Risiko di kawasan ini nyata dan bisa membahayakan nyawa,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan aliran lumpur yang optimal karena pengurangan volume pengaliran ke Sungai Porong berpotensi meningkatkan tekanan pada tanggul.
“Kalau pengaliran dikurangi, tanggul bisa jebol. Dampaknya tidak hanya ke masyarakat sekitar, tapi juga ke jalur transportasi seperti jalan arteri dan kereta api,” katanya.
Ia meminta pemerintah memastikan ketersediaan anggaran yang memadai untuk penanganan lumpur karena keselamatan publik harus menjadi prioritas utama dibandingkan efisiensi.
“Untuk menyelamatkan satu nyawa saja harus disiapkan anggaran, apalagi ini menyangkut ribuan warga. Tidak boleh ada kompromi,” katanya.
Kabid Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo, Zulyana Tandju, menjelaskan bahwa pengelolaan lumpur terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi anggaran.
Ia menyebut, dalam dua tahun terakhir terjadi penyesuaian pengaliran dari sekitar 21 juta meter kubik per tahun menjadi 13 juta meter kubik per tahun.
Menurut Zulyana, kondisi tersebut berdampak pada kapasitas tampungan yang semakin cepat penuh.
“Jika tampungan penuh dan terjadi curah hujan tinggi, maka berpotensi terjadi overtopping atau luapan yang dapat menyebabkan tanggul jebol,” katanya.
Pewarta: Indra SetiawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026