Banyuwangi (ANTARA) - Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (Asli) meminta PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk menambah fasilitas dermaga di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dan Gilimanuk, Bali agar tidak ada lagi antrean panjang truk logistik saat menjelang dan setelah Lebaran.

Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia Selamet Barokah di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa, mengatakan bahwa antrean panjang berisiko menimbulkan kerugian jika barang yang dibawa rusak, hilang dan mengalami keterlambatan.

"Kami dari sopir truk logistik sudah banyak juga berkorban mulai sering kehabisan uang saku, tenaga dan risiko lainnya," kata Selamet.

Sebagai informasi, selama tiga hari terakhir yang juga bersamaan dengan masa arus balik Lebaran 2026, truk logistik yang akan menyeberang ke Gilimanuk, Bali, dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, harus mengantre hingga belasan kilometer.

Kondisi itu, lanjutnya, menyebabkan pergerakan logistik dari Jawa ke Bali juga terhambat, dan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) tidak efisien.

Selain itu, menurut Selamet, antrean panjang juga mengganggu pergerakan masyarakat di kawasan Pelabuhan Ketapang. Antrean itu juga dikhawatirkan berdampak pada harga kebutuhan karena distribusi logistik terhambat.

"Kami masih harus membutuhkan waktu yang lama dengan tidak pastinya kapal sandar menunggu giliran karena keterbatasan dermaga, sehingga menyebabkan kapal sandar harus menunggu di laut kurang lebih sekitar dua jam," ujar dia.

Dia berharap pemerintah dalam hal ini ASDP segera hadir untuk menambah fasilitas dermaga di penyeberangan Selat Bali itu, dengan kapasitas lebih besar.

"Karena kebutuhan penambahan dermaga ini mendesak, mengingat jalan tol Prosiwangi tidak lama lagi tersambung dan pastinya dapat meningkatkan demand. Apalagi hal ink seperti sudah terjadi beberapa kali," tutur Selamet.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Yossianis Marciano menyampaikan berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas yang diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) menjadi salah satu faktor meningkatnya antrean di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

"Setelah berakhirnya pembatasan kendaraan logistik, terjadi peningkatan signifikan truk yang masuk ke Pelabuhan Ketapang, dan kondisi ini berdampak pada antrean kendaraan, namun tetap dalam kendali melalui penguatan manajemen operasional di lapangan," katanya.

Menurutnya, ASDP berkolaborasi dengan regulator dan operator kapal melakukan penyesuaian layanan secara adaptif dengan mengoptimalkan pola tiba bongkar berangkat (TBB), penambahan trip dan armada kapal, serta pengendalian ritme kendaraan melalui buffer zone.

"Kami mengoptimalkan pola TBB, menambah trip dan armada kapal, serta mengatur ritme kendaraan melalui buffer zone agar arus logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu kelancaran perjalanan pengguna jasa lainnya," kata Yossi.

Pada Selasa (31/3) atau H+9 Lebaran 2026, ASDP mengoperasikan 36 kapal dengan dukungan penerapan pola TBB pada 10 kapal di Dermaga MB IV guna mempercepat proses bongkar muat.

Selain itu, enam kapal perbantuan turut memperkuat layanan, yakni KMP Portlink VII, Liputan XII, Dharma Kencana IX, Dharma Rucitra, Karya Maritim II dan Perkasa Prima V.



Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026