Surabaya (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyebutkan sebanyak 20.548 wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke provinsi setempat pada Januari 2026 melalui Bandara Juanda atau turun 17,87 persen dibandingkan Desember 2025 yang sebanyak 25.019 kunjungan.
Dibandingkan Januari 2025, jumlah wisman ke Jatim juga turun 7,10 persen atau 1.571 kunjungan dengan jumlah wisman pada Januari 2025 sebanyak 22.119 kunjungan.
“Diharapkan jumlah kunjungan wisman ke Jawa Timur pada bulan-bulan berikutnya dapat meningkat,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Jatim Ike Rahayu Sri di Surabaya, Senin.
Jumlah kunjungan wisman terbanyak berasal dari Tiongkok sebanyak 7.068 kunjungan dengan peranan sebesar 34,4 persen terhadap total wisman yang masuk melalui pintu Juanda.
Disusul oleh warga Malaysia sebanyak 4.345 kunjungan serta wisman warga negara yang berkebangsaan Singapura sebanyak 1.397 kunjungan.
Sementara untuk kunjungan wisatawan nusantara (wisnus), jumlah perjalanan wisnus dari Jatim pada Januari 2026 tercatat sebanyak 16,79 juta perjalanan atau turun 9,99 persen dibandingkan Desember 2025.
Berdasarkan daerah asal, Surabaya menjadi daerah asal perjalanan wisata dengan angka tertinggi yaitu 2,82 juta pada Januari 2026 atau sekitar 16,77 persen dari total perjalanan wisnus dari Jatim.
Kemudian perjalanan wisnus pada Januari 2026 berdasarkan daerah asal menurun dibanding tahun sebelumnya dengan penurunan signifikan dialami Kabupaten Probolinggo sebesar 40,23 persen.
Sebaliknya, perjalanan wisnus dengan peningkatan paling signifikan pada Januari 2026 dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu Kota Madiun sebesar 18,86 persen.
Perjalanan wisnus dengan tujuan Jatim pada Januari 2026 tercatat sebesar 17,58 juta perjalanan atau turun 10,87 persen dibanding Desember 2025.
Berdasarkan daerah tujuan, Surabaya menjadi daerah tujuan perjalanan wisata dengan angka tertinggi yaitu 2,07 juta pada Januari 2026 atau 11,78 persen dari total perjalanan wisnus tujuan Jatim.
Untuk Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Jatim pada Januari 2026 tercatat sebesar 45,80 persen atau turun 10,52 poin dibandingkan Desember 2025 sebesar 56,32 persen.
Penurunan TPK pada Januari 2026 dipengaruhi oleh penurunan TPK yang terjadi pada sebagian besar kelas hotel bintang yaitu bintang 2 turun 13,22, bintang 3 sebesar 7,59, bintang 4 sebesar 12,50 dan bintang 5 sebesar 14,58 poin.
Sedangkan TPK hotel non bintang dan akomodasi lainnya Januari 2026 sebesar 22,75 persen atau turun 2,82 poin dibandingkan TPK Desember 2025 yang sebesar 25,57 persen.
Terdapat tiga Kabupaten/Kota dengan TPK hotel bintang tertinggi yaitu Kabupaten Gresik, Kabupaten Kediri, dan Kota Mojokerto masing-masing sebesar 66,91 persen; 62,42 persen; serta 59,35 persen.
Sedangkan di posisi sebaliknya Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan menjadi tiga kabupaten dengan nilai TPK hotel bintang terendah yakni masing-masing 12,90 persen; 14,81 persen; dan 26,73 persen.
Ike menjelaskan TPK hotel yang tinggi di suatu Kabupaten/Kota dipengaruhi oleh beberapa faktor utama antara lain letak strategis hotel yang dekat dengan pusat bisnis, destinasi wisata, atau fasilitas transportasi seperti bandara dan stasiun.
Selain itu, kualitas pelayanan yang baik, fasilitas lengkap, serta harga yang kompetitif juga menjadi daya tarik bagi tamu.
Adanya kegiatan berskala besar, seperti konferensi, festival, atau musim liburan, turut meningkatkan permintaan kamar.
Faktor lain yang berperan adalah promosi efektif melalui media digital dan kerja sama dengan agen perjalanan atau aplikasi pemesanan online sehingga hotel lebih mudah dijangkau oleh wisatawan maupun pelaku bisnis.
