Surabaya (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar workshop pendokumentasian warisan seni budaya dengan objek wayang topeng Malangan sebagai upaya pelestarian seni tradisi melalui penguatan dokumentasi digital.
“Pelestarian budaya hari ini tidak cukup hanya lewat pementasan, tetapi juga harus didokumentasikan dengan baik agar bisa diakses lintas generasi dan lintas wilayah,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Jawa Timur Deddy Hariyono di Surabaya, Selasa malam.
Ia menjelaskan workshop tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas humas dan petugas dokumentasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten/kota agar mampu menghasilkan video pendek dan film dokumenter budaya yang berkualitas serta bernilai arsip jangka panjang.
“Lewat dokumentasi digital, kami ingin seni budaya daerah tidak berhenti di satu panggung, tetapi bisa terus hidup, dipelajari, dan dikenal lebih luas, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, wayang topeng Malangan, sebagai seni pertunjukan khas Kabupaten Malang yang sarat nilai filosofis, dihadirkan melalui pagelaran terbuka di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur. Pagelaran ini tidak hanya menjadi sarana pertunjukan, tetapi juga media edukasi dan pelestarian budaya.
Lakon “Candrasmara” dipilih karena mengangkat kisah universal tentang percintaan, pengorbanan, dan nilai kehidupan, yang menceritakan perjalanan cinta Raden Panji Asmoro Bangun atau Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana dalam menghadapi berbagai rintangan.
Melalui tarian topeng yang penuh makna, iringan gamelan yang dinamis, serta narasi dalang, nilai-nilai kesetiaan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan disampaikan secara simbolik dan komunikatif kepada penonton.
Pagelaran tersebut menampilkan Grup Seni Tari dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya dengan melibatkan kolaborasi seniman senior dan generasi penerus.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan pertunjukan yang autentik, dinamis, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Workshop yang berlangsung selama dua hari, 10–11 Februari 2026, diikuti 56 peserta dari target 70 orang yang berasal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta unsur kehumasan kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Deddy menambahkan, hasil dokumentasi peserta akan dinilai oleh narasumber dan diunggah ke kanal YouTube resmi UPT Taman Budaya Jawa Timur sebagai arsip digital sekaligus media promosi budaya Jawa Timur.
“Digitalisasi ini menjadi langkah strategis agar warisan seni budaya Jawa Timur tetap terjaga, sekaligus membuka peluang bagi seniman daerah untuk dikenal di tingkat nasional hingga internasional,” katanya.
Kehadiran perwakilan mahasiswa dari Prancis dan Universitas Hong Kong dalam pagelaran tersebut turut menunjukkan bahwa seni tradisi Jawa Timur memiliki daya tarik global jika dikemas dan didokumentasikan secara tepat.
