Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Wajah bahagia terpancar dari ratusan mahasiswa Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, yang dinyatakan lulus dan mengikuti upacara wisuda periode VIII tahun akademik 2025/2026 di gedung Auditorium kampus setempat pada Sabtu (7/2/2026).
Sebanyak tiga lulusan doktor, 52 lulusan magister, 724 lulusan sarjana dan sarjana terapan, serta 21 lulusan diploma 3, telah diwisuda oleh Rektor Unej Iwan Taruna dan dihadiri oleh keluarga wisudawan dengan rasa bangga dan suka cita.
Di antara deretan wisudawan perguruan tinggi negeri tersebut, sosok Nadiya Ayu Sekar Kinari mencuri perhatian. Lulusan Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) itu berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik, dengan capaian IPK tertinggi 3,64 dan masa studi 3 tahun 11 bulan 8 hari.
Mahasiswi angkatan 2021 itu bukan sekadar kutu buku. Di tengah padatnya kurikulum kedokteran gigi, ia aktif di berbagai organisasi, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKG, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lisma, Insisivus, hingga menjadi pengurus nasional di Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI) periode 2022–2024.
Perjuangannya untuk meraih prestasi dengan IPK tertinggi tidaklah mudah, karena di balik capaian akademik yang membanggakan itu, Nadiya mengakui bahwa dukungan keluarga menjadi sumber motivasi terbesar untuk terus bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.
Kedua orang tuanya memiliki peran besar dalam perjalanan akademiknya, meski menghadapi tantangan ekonomi dan memiliki tanggungan keluarga yang tidak sedikit. Orang tuanya selalu berusaha memberikan fasilitas terbaik, seperti alat-alat pendukung kuliah demi kelancaran studinya.
Sang ayah harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dari rumah mereka di Bandung untuk bekerja, sementara ibunya kerap bertugas ke luar kota, bahkan luar pulau, seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, sehingga Nadiya hanya bisa bertemu mereka di akhir pekan.
Kedua orang tuanya bekerja sebagai pegawai swasta, dengan jarak yang bisa memisahkan keluarga setiap harinya, sehingga kondisi tersebut membuat waktu kebersamaan keluarga menjadi terbatas. Kenyataan itu tidak mengurangi komitmen orang tua Nadiya dalam mendukung pendidikan anak-anaknya.
Selain harus membagi jarak dan waktu, keluarga Nadiya juga dihadapkan pada tantangan ekonomi. Saat itu, keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sewa yang terus meningkat setiap tahunnya, terlebih di tengah biaya hidup di Kota Bandung yang tidak murah.
Dengan empat anak yang masih menempuh pendidikan, dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar, beban ekonomi menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua Nadiya. Meski demikian, kedua orang tuanya tidak pernah membiarkan keterbatasan tersebut menjadi alasan untuk menyerah. Tekadnya bulat bahwa anak-anaknya harus mendapatkan pendidikan yang terbaik.
"Sebagai anak pertama, saya tahu betul kesulitan mereka membiayai empat anaknya yang semuanya masih sekolah. Orang tua selalu melarang kami memikirkan jika itu menyangkut biaya sekolah atau kuliah," tuturnya.
Kedua orang tuanya selalu mengatakan bahwa biaya sekolah pasti akan dicarikan, berapapun itu. Sebagai anak, hal yang bisa dilakukan adalah membalasnya dengan memberikan yang terbaik dan hasil yang baik, supaya kerja keras orang tua tidak sia sia.
Pengorbanan kedua orang tuanya tersebut kerap menghadirkan dilema emosional bagi Nadiya. Iya mengaku sering merasa berat, bahkan tak jarang meneteskan air mata, saat harus meminta biaya untuk kebutuhan kuliah.
Hanya saja, orang tuanya selalu menegaskan agar anak-anaknya tidak pernah merasa terbebani oleh persoalan biaya pendidikan, sehingga sikap tersebut justru menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tekad kuat dalam dirinya untuk membuktikan bahwa setiap pengorbanan orang tuanya tidak akan sia-sia.
Mahasiswi asal Bandung itu berpesan kepada mahasiswa yang masih menempuh studi untuk berusaha menjadi yang terbaik yang bisa dilakukan untuk mewujudkan mimpi orang tua yang bekerja keras membanting tulang demi pendidikan anak-anaknya dan jangan pernah patah semangat karena usaha keras akan membuahkan hasil yang terbaik.
Masa depan bangsa
Wakil Ketua Tim Kerja Humas Unej Iim Fahmi Ilman mengatakan jumlah mahasiswa yang kurang mampu di Unej cukup banyak. Setiap tahun, perguruan tinggi negeri (PTN) yang ada di Kabupaten Jember itu menyalurkan beasiswa kuliah melalui Kartu Indonesia Pintar - Kuliah (KIP-K) berkisar 1.200 hingga 1.700 orang setiap tahunnya, yang disesuaikan dengan kuota dari pemerintah.
Penerimaan mahasiswa baru tahun 2025 jalur SNBT di Unej tercatat sebanyak 1.554 mahasiswa baru yang menerima KIP-K tersebut dan tidak jarang mahasiswa dari keluarga yang berpenghasilan menengah ke bawah mencetak segudang prestasi, baik akademik maupun non-akademik.
Pihak kampus mengapresiasi para mahasiswa yang kurang mampu, namun tetap berjuang untuk meraih prestasi gemilang di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya, sehingga hal tersebut bisa menjadi motivasi mahasiswa lain yang mengalami nasib serupa.
Rektor Unej Iwan Taruna sering menyampaikan pesan refleksi bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab intelektual dan sosial sebagai insan terdidik yang diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
Bagi dia, kecendekiaan tidak boleh berhenti pada kepandaian semata. Para pendiri bangsa telah memberi teladan bahwa ilmu harus memberi faedah bagi kehidupan dan dijalankan dengan moral. Karena itu, gelar akademik yang diraih dalam wisuda bukanlah garis akhir, melainkan amanah untuk menjadikan ilmu sebagai kekuatan pengabdian.
Ia juga berharap para wisudawan menjadi mahasiswa seumur hidup, dengan terus memelihara tekad dan semangat untuk menjadi pembelajar, seperti saat masih menjadi mahasiswa di kampus.
Pasalnya, dunia selalu berubah dan bergerak dinamis, sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Apa yang hari ini dinilai masih relevan, mungkin setahun ke depan sudah tidak dipakai lagi.
Untuk itu para wisudawan bisa menjadi pribadi yang adaptif, memiliki daya tahan, mampu bekerja lintas disiplin dan lintas budaya serta siap berkolaborasi.
Ia juga menekankan kemampuan berkolaborasi menjadi penting. Kolaborasi bukan berarti selalu setuju, tapi kemampuan mendengar, menghargai perbedaan, mengolah sudut pandang, sekaligus mengelola egosentrisme karena kemampuan berkolaborasi menjadikan seseorang tetap relevan dimana pun bekerja.
Para wisudawan Unej diharapkan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa dan negara, terus berkarya, berinovasi dan adaptif demi mewujudkan Generasi Emas 2045.
