Surabaya (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyebutkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 mengalami penurunan sebesar 4,42 persen dibandingkan Desember 2025 yaitu dari 118,96 menjadi 113,71.
“NTP menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk menilai tingkat kemampuan atau daya beli petani di wilayah pedesaan,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Jatim Ike Rahayu Sri di Surabaya, Senin.
Ike menuturkan penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib).
Ia menyebutkan It turun sebesar 5,14 persen sedangkan Ib hanya mengalami penurunan sebesar 0,76 persen.
Jika dilihat perkembangan masing-masing subsektor pada Januari 2026, seluruh subsektor pertanian mengalami penurunan NTP kecuali subsektor Perikanan.
Subsektor yang mengalami penurunan NTP terdalam yaitu subsektor Hortikultura sebesar 25,08 persen yaitu dari 178,43 menjadi 133,69 sedangkan subsektor Peternakan turun 1,55 persen dari 105,17 menjadi 103,54.
Kemudian untuk subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun sebesar 0,41 persen dari 108,36 menjadi 107,92 dan subsektor Tanaman Pangan turun sebesar 0,04.
“Subsektor Perikanan satu-satunya yang mengalami peningkatan NTP yaitu sebesar 3,32 persen dari 99,35 menjadi 102,65,” ujar Ike.
Ia merinci sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani (lt) pada Januari 2026 adalah cabai rawit, bawang merah, gabah, jagung, telur ayam ras, tomat, cabai merah, ayam ras pedaging, kentang dan wortel.
Sedangkan sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan indeks harga yang diterima petani (lt) adalah kacang tanah, ketela pohon, kacang hijau, mangga, layang (malalugis/momar), tongkol, bandeng payau, kembung (kombong/sumbo), teri, dan cakalang.
Sementara sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang dibayar petani (lb) adalah bawang merah, cabai rawit, cabai merah, tomat sayur, daging ayam ras, telur ayam ras, bensin, kelapa tua, sawi hijau, dan kacang panjang.
Untuk sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan indeks harga yang dibayar petani (lb) pada Januari 2026 adalah bawang putih, sigaret kretek mesin (SKM), emas perhiasan, benih padi, beras, upah pemanenan, upah membajak, upah penanaman, upah mencangkul dan tongkol.
Selanjutnya, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) di Jatim pada Januari 2026 turun 5,4 persen karena It turun sebesar 5,14 persen sedangkan Indeks BPPBM naik sebesar 0,28 persen.
Empat subsektor mengalami penurunan NTUP dengan terdalam terjadi pada subsektor Hortikultura sebesar 25,58 persen, diikuti subsektor Peternakan turun 2,06 persen, subsektor Tanaman Pangan turun 1,35 persen, dan subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun 1,35 persen.
“Satu subsektor mengalami peningkatan NTUP yakni terjadi pada subsektor Perikanan yang naik sebesar 2,84 persen,” kata Ike.
Secara konseptual, NTUP mengukur seberapa cepat perubahan harga komoditas yang dihasilkan dan dijual oleh Petani dibandingkan dengan perubahan harga komoditas/barang yang digunakan untuk proses produksi dan penambahan barang modal.
