Surabaya, Jatim (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyebutkan nilai tukar petani (NTP) pada Desember 2025 naik sebesar 3,95 persen yaitu dari 114,44 pada November 2025 menjadi 118,96.
"Biasanya dari sisi harga yang meningkat, maka NTP pada Desember 2025 naik 3,95 persen," kata Kepala BPS Jatim Zulkipli di Surabaya, Jatim, Senin.
Kenaikan NTP disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yaitu It naik sebesar 4,99 persen dan Ib naik sebesar 1,00 persen.
Zulkipli menjelaskan tiga subsektor pertanian mengalami kenaikan NTP adalah subsektor hortikultura sebesar 32,88 persen dari 134,28 menjadi 178,43, diikuti subsektor perikanan yang naik sebesar 2,10 persen dari 97,31 menjadi 99,35, dan subsektor peternakan yang naik sebesar 1,11 persen dari 104,01 menjadi 105,17.
Di sisi lain, terdapat dua subsektor yang mengalami penurunan NTP terdalam adalah subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun sebesar 3,14 persen dari 111,88 menjadi 108,36 diikuti subsektor tanaman pangan yang turun sebesar 0,50 persen dari 115,97 menjadi 115,38.
Sementara itu, sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan indeks harga yang diterima petani pada Desember 2025 adalah cabai rawit, bawang merah, gabah, telur ayam ras, ayam ras pedaging, kacang tanah, jagung, wortel, tomat, dan kol/kubis.
Sedangkan, sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani adalah tebu, buncis, sapi potong, jeruk, apel, sawi hijau, ketimun, kambing, ayam kampung/buras, dan kacang panjang.
Untuk sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, bensin, tomat sayur, cabai merah, bibit bawang merah, semangka, dan kangkung.
Kemudian, sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang dibayar petani pada Desember 2025 adalah kelapa tua, kacang panjang, ketimun, buncis, salak, bibit kentang, bakalan sapi (umur > 12 bulan), nitrogen phosphate kalium (NPK), urea, dan kentang.
