Surabaya - Sebanyak 50 karya finalis "Trienal Seni Grafis Indonesia IV-2012" dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS) Surabaya pada 18 Januari hingga 17 Februari 2013. "Seni grafis itu masih dianggap 'kelas dua' dibandingkan seni lukis dan seni lainnya, karena itu kami memamerkan hasil dari kompetisi tiga tahunan itu," kata kurator pameran, Hari Budiono, di Surabaya, Kamis. Ia menjelaskan "Trienal Seni Grafis Indonesia" merupakan kompetisi seni grafis yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya. Kompetisi itu pertama kali diadakan pada tahun 2003. "Jadi, kompetisi yang terbuka bagi masyarakat umum ini telah memasuki tahun penyelenggaran ke-4. Ada 405 karya dari 224 pegrafis yang ikut serta dalam kompetisi itu, lalu disaring 50 karya sebagai finalis untuk dipamerkan di beberapa tempat," katanya. Menurut dia, ada berbagai kategori teknik yang digunakan dalam kompetisi yang berupaya kembali pada teknik cetak konvensional yang merujuk pada teknik konvensi seni grafis. Teknik yang dimaksud antara lain cetak tinggi (cukilan kayu, lino), cetak datar (litografi), cetak dalam (etsa, mezzotint, engraving, dry point, collagraphy), dan cetak saring (sablon). "Jadi, seni grafis adalah seni yang merupakan hasil cetakan atau ada master dari kayu, karet, dan sablon. Intinya dicetak pada bidang datar dan bisa dicetak lebih dari satu kali," katanya. Ia menegaskan bahwa hasil kompetisi itu dipamerkan di beberapa tempat yaitu Bentara Budaya Jakarta (2012), Balai Soedjatmoko Solo (2012), Bentara Budaya Yogyakarta (2012), Bentara Budaya Bali (2012), House of Sampoerna Surabaya (2013) dan Galeri Soemardja Bandung (2013). "Adapun pemenang pertama pilihan dewan juri yang beranggotakan para kurator Bentara Budaya ini adalah karya Agung Prabowo asal Bandung yang berjudul 'Nirbaya Jagratara'," katanya. Sebelum mengikuti kompetisi ini, Agung telah beberapa kali tergabung dalam banyak pameran bersama antara lain "Bandung New Emergence vol.4" (2012) dan "For Whom the Bel Toys" yang diadakan di Jakarta. Selain Agung, dua pemenang terbaik adalah karya "Art, Girl and Murder" karya M Fadhil Abdi dari Yogyakarta, dan "Book, Prints and Memory" karya Theresia Agustina Sitompul dari Yogyakarta. "Karya Agung itu ada 20 warna, artinya ada 20 kali cetakan dengan tingkat ketepatan warna yang sulit, sedangkan karya Fadhil merupakan cukilan yang banyak dan rumit, sehingga perlu ketelitian dan ketelatenan," katanya. Ia menambahkan hasil kompetisi dipamerkan, karena Bentara Budaya prihatin dengan perkembangan seni grafis, meski peserta kompetisi 'Trienal' dari tahun ke tahun cenderung meningkat. "Kami optimis kompetisi ini tidak akan surut, bahkan akan lebih berarti di masa yang akan datang, termasuk memperluas ajang kompetisi ini hingga setingkat kawasan Asia Tenggara," katanya. (*)
Berita Terkait
Puluhan Radio Kuno Dipamerkan di Surabaya
17 Maret 2014 20:47
Benda terbuang pun jadi karya lukis dan instalasi
5 Februari 2020 19:29
Semangat perjuangan dalam karya "Jangan Bung"
14 Agustus 2019 16:07
14 pelukis persembahkan "Banyumili" untuk Surabaya
3 Mei 2019 20:16
Seniman Prancis abadikan budaya pesisir Surabaya dan Madura
10 April 2019 17:52
Pelukis Dedok dan Grace Pameran "Love Talk" (video)
13 Februari 2019 21:38
Menpar Cicipi Lezatnya Kuliner Surabaya dan Kunjungi Museum House of Sampoerna (Video)
9 Februari 2019 09:50
Pameran Warisan Budaya Dan Foto
22 September 2018 22:59
