Surabaya (ANTARA) - Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (GAPERO) Surabaya Sulami Bahar menyatakan industri kretek merupakan warisan budaya sekaligus penopang utama ekonomi daerah.
"Industri kretek bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga penopang utama ekonomi daerah," katanya di Surabaya, Selasa.
Sulami menyebutkan Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan sektor dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional yakni Rp218 triliun pada 2024 dengan 65 persen di antaranya dari Jawa Timur.
Kontribusi IHT pun tidak hanya menyokong penerimaan negara hingga 11 persen dari total APBN tetapi juga menyerap lebih dari enam juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
"Mulai dari petani, buruh linting, hingga pelaku distribusi, semua bergantung pada sektor ini. Rantai pasoknya murni berbasis lokal, dari bahan baku, produksi, hingga konsumsi," katanya.
Di sisi lain di balik sumbangsih besar itu, industri ini menghadapi tekanan regulasi yang tidak ringan karena ada lebih dari 500 regulasi yang mengikat IHT termasuk kenaikan tarif cukai.
Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) Prof. Nugrahini Susantinah Wisnujati menilai penting untuk mendorong hilirisasi produk tembakau agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
"Kita perlu wadah yang mendukung inovasi, kualitas, dan diversifikasi produk berbasis tembakau nasional," katanya.
Untuk mendukung industri kretek, UWKS bersama Lembaga Kajian Ekonomi, Budaya, dan Transformasi Sosial Lentera Nusantara menyelenggarakan Surabaya Kretekroncong Festival 2025.
"Kita perlu kebijakan yang tidak sekadar menekan, tetapi juga merawat. Seperti harmoni dalam keroncong, setiap nada memiliki tempatnya, setiap instrumen memiliki perannya," ujar Direktur Lentera Nusantara Irfan Wahyudi.
